Sekolah yang Tidak Pamer Prestasi, Tapi Sibuk Mengurus Kewarasan: Catatan Receh Orang Tua di SDIT Cordova 2

by - 12:00 AM

Saya tidak sedang mencari sekolah terbaik. Saya hanya mencari sekolah yang tidak bikin saya capek batin sebelum jam 6 pagi. Dan entah bagaimana, SDIT Cordova 2 masuk kategori itu—bukan karena gedungnya, bukan karena brosurnya, tapi karena hal-hal receh yang jarang ditulis orang.

Di internet, Cordova 2 tampak rapi dan normatif. Visi-misi ada. Kurikulum jelas. Foto-foto anak tersenyum berjajar. Prestasi banyak. Tapi yang membuat saya merasa “oh, ini tempat manusia” justru hal-hal yang tidak pernah masuk website resmi.

Misalnya soal POMG. Di Cordova 2, wali murid dilarang memberi selain makanan kepada wali kelas saat pembagian rapor. Bukan karena guru tidak butuh, tapi karena sistem sadar: kalau dibiarkan, wali kelas bisa kelebihan gift, dan kelebihan beban moral. Hari rapor seharusnya tentang anak, bukan tentang siapa orang tua paling kreatif mengemas terima kasih.

Hari guru pun sudah di-handle POMG. Hadiah kolektif. Tidak ada lomba parcel. Tidak ada drama “kok anak dia lebih diperhatikan ya?”. Kecemburuan sosial dipotong dari hulunya. Guru tetap guru, bukan resepsionis gratifikasi.

Lalu soal transportasi. Ini receh, tapi jujur: fleksibilitas kendaraan wali murid di Cordova 2 itu antropologis sekali. Sehari-hari banyak orang tua antar anak pakai motor. Padahal, jelas terlihat mereka punya mobil. Tapi saat hujan turun, halaman sekolah berubah jadi festival roda empat. Artinya sederhana: kendaraan itu alat, bukan simbol status. Yang penting anak sampai, bukan gengsi sampai.

Soal outing class juga begitu. Uang saku maksimal Rp50 ribu, sudah dipecah. Bukan karena pelit, tapi karena sekolah sadar: hierarki sosial bisa lahir dari uang saku receh. Mereka mencegah itu sejak awal. Anak-anak pergi belajar, bukan pamer saldo.

Prestasi? Mungkin jarang terdengar masuk berita nasional. Tidak viral. Tidak ada headline “Siswa Cordova Juara Dunia”. Tapi dari hari ke hari, yang terlihat adalah anak-anak yang tahu menyapa, tahu menunggu giliran, tahu minta maaf, tahu tidak berteriak saat ingin diperhatikan. Kognitif mungkin rata-rata. Tapi empati diasah sejak kelas satu. Dan buat saya, itu bukan “kurang ambisi”, itu investasi jangka panjang.

Ada juga kebijakan yang jarang disentuh sekolah dasar: siswa boleh membawa kendaraan roda dua sendiri, dengan syarat ketat. Bukan di SD, tentu saja. Tapi saat sudah kelas 2 SMAIT, dan lulus safety riding. Ini bukan soal kebebasan, tapi soal kepercayaan yang bertahap dan bertanggung jawab. Anak tidak dilepas, tapi dipersiapkan.

Saya sadar ini bias. Saya membandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Di fase sebelum sekolah SD, energi habis hanya untuk mikir: hari ini harus bawa apa buat guru? Hari besar apa lagi? Ada yang kasih parcel setinggi anaknya. Karena dinormalisasi, ada guru yang sampai bercanda, “kalau nggak gitu, guru dapat apa?”

Di Cordova 2, Idul Fitri dan hari besar lain diurus POMG dari kas. Saya tinggal fokus nyari uang dan ngurus anak saya waras. Buat saya, itu mewah.

Saya sempat kepikiran sekolah lain yang lebih “besar namanya”. Tapi cerita soal gift mahal, perhatian berlebih, dan nilai yang terasa terlalu fleksibel bikin saya mundur. Saya tidak mau anak saya belajar bahwa relasi pendidikan itu soal barter.

Lucunya, saat pembagian rapor, wali kelas Cordova 2 malah terlihat kikuk menghadapi kami. Tidak ada drama. Tidak ada amplop. Nilai anak saya tinggi, bahkan katanya sistem tidak mengizinkan nilai 100, padahal secara hitungan dia 100 semua. Saya cuma tertawa dan bilang, “itu bonus, Miss. Miss sudah optimal, anak saya kebetulan mau belajar.”

Jawaban itu mungkin terdengar aneh. Tapi saya tidak sedang merendah. Saya hanya tidak ingin meninggikan apa yang tidak perlu ditinggikan. Kami di rumah lebih fokus mengelola spektrum emosi. Kalau anak bisa menata emosi dirinya, besar kemungkinan ia juga bisa menata ritme emosi gurunya. Kognitif sering ikut belakangan.

Anak saya dulu kesulitan belajar, seperti saya dulu. Bedanya, saya kabur baca koran Lampu Merah di atas kandang kambing, sampai keluarga mengira saya diculik kolong wewe. Anak saya cukup tidur, makan cukup, boleh marah, boleh sedih, lalu belajar. Hasilnya? Ya jalan.

Mungkin karena itu wali kelas terasa aware. Bukan karena saya pintar, tapi karena saya tidak datang membawa topeng. Tidak glorifikasi anak, tidak memeras empati guru, tidak pura-pura rendah hati. Hanya hadir.

Kalau dipinjam istilah sok akademik sedikit: ini mungkin soal resonansi batin. Guru yang waras ketemu orang tua yang waras. Nanti pasti ada disonansi, beda pendapat, konflik kecil. Tapi fondasinya sudah manusia.

Dan buat saya, itu cukup alasan untuk bilang:
menyekolahkan anak di SDIT Cordova 2 adalah keputusan yang tepat—bukan karena prestasi, tapi karena kewarasan dijaga bersama.

Sisanya? Bonus. 😄

You May Also Like

0 komentar