Anak Saya Mengira “Harmonis” Itu Nama Bapak di Kartun

by - 6:00 AM

Ada satu momen kecil di rumah yang bikin saya dan istri tertawa cukup lama, lalu diam sebentar, lalu tertawa lagi—kali ini lebih pelan.

Anak saya sedang nonton kartun.
Kartun keluarga. Standar saja: konflik remeh, rebutan mainan, salah paham kecil, orang dewasa turun tangan, rekonsiliasi, lalu punchline klasik:

“Kami adalah keluarga harmonis.”

Anak saya mendadak serius.

“Oh,” katanya, “berarti itu bapaknya namanya Pak Harmonis, ya? Ibunya Bu Harmonis?”

Kami langsung pecah.
Ketawa nggak rapi. Anak saya malah tambah bingung, merasa seperti baru melontarkan teori penting tapi ditertawakan dunia.

Ia lalu bertanya dengan wajah polos,
“Memangnya… harmonis itu apa?”

Kami saling pandang.
Ini bukan pertanyaan berat, tapi juga tidak bisa dijawab pakai definisi kamus.

Akhirnya kami jawab pelan-pelan, sederhana saja.

“Harmonis itu,” kata kami,
“kayak di rumah. Kita saling sayang. Kadang berantem, tapi sebentar. Habis itu baikan lagi.”

Ia manggut-manggut.

Lalu saya tanya,
“Menurut kamu, keluarga kita harmonis nggak?”

Ia bengong. Lama. Seperti sedang membuka folder baru di kepalanya.

Saya bantu lagi.
“Kamu pernah lihat ayah sama ibu berantem besar?”

Ia geleng.
“Kamu kalau berantem sama adik, lama nggak baikan?”

“Iya… cepet.”

“Nah,” saya bilang,
“itu harmonis.”

Saya tambahkan satu catatan kecil, supaya tidak jadi dongeng manis berlebihan.
“Kalau kamu sama adik saling nyakitin, terus nggak mau temenan lagi, itu bukan harmonis.”

Ia diam.
Mencerna. Tidak bertanya lagi.

Dan di situ saya sadar sesuatu yang agak lucu sekaligus hangat:
anak saya tidak tahu arti kata harmonis,
tapi ia sudah hidup di dalamnya.

Ia mengira harmonis itu nama orang,
karena yang ia lihat memang bukan konsep, tapi praktik.

Tidak ada slogan.
Tidak ada deklarasi.
Tidak ada poster “keluarga harmonis” ditempel di dinding.

Yang ada cuma berantem sebentar, baikan lagi.
Kesal sebentar, lalu minta tolong lagi.
Capek sebentar, lalu pulang ke orang yang sama.

Mungkin memang begitu seharusnya.
Harmonis bukan kata yang harus dipahami,
tapi pola yang dirasakan.

Dan anak-anak—seperti biasa—tidak butuh definisi.
Mereka cukup hidup di dalamnya.

Sisanya,
biar orang dewasa saja yang ribet
mencari istilah untuk sesuatu yang sebenarnya…
sudah berjalan.

You May Also Like

0 komentar