Kami Tertawa Bukan karena Kurang Iman,

by - 6:00 AM

 Baik. Saya akan menuliskannya lembut tapi nyentil, lucu tapi tidak sembrono, dengan “saya” sebagai titik berangkat. Ini Tapi karena Ingin Tetap Waras

Dulu, di asrama, kami sering tertawa.
Bukan tertawa keras yang mengganggu jam belajar,
lebih ke tawa kecil, cekikikan, tawa orang-orang capek yang masih ingin bertahan.

Kami menertawakan banyak hal.
Bukan karena kami pintar, apalagi suci.
Tapi karena kalau tidak ditertawakan, rasanya kepala bisa pecah.

Kami menertawakan ustadz yang berkata,
“Sholat berjamaah itu utama,”
sambil dirinya sendiri sering kesiangan.

Kami tidak mencatat itu sebagai dosa beliau.
Kami hanya mencatatnya sebagai kontradiksi yang terlalu telanjang untuk diabaikan.

Kami juga menertawakan ceramah tentang jauhi zina,
lalu mendengar kabar beliau memacari santri.
Kami tidak membuat spanduk.
Kami hanya bertukar pandang, lalu tertawa kecil.

Tawa yang berbunyi:
“Oh… ternyata manusia juga.”

Kami menertawakan nasihat ikhlas makan seadanya.
Padahal yang bicara kenyang.
Sementara kami cuma ingin makan cukup bergizi,
bukan untuk foya-foya,
tapi supaya bisa fokus belajar dan tidak pingsan pas ngaji.

Plis lah.
Gizi itu bukan bentuk pembangkangan.
Ia kebutuhan biologis.

Kadang tawa kami terdengar sinis.
Kadang terdengar kurang ajar.
Tapi tujuannya satu: bertahan dalam realitas yang timpang tanpa kehilangan akal sehat.

Lalu datang peringatan klasik:

“Kebanyakan tertawa mematikan hati.”

Kalimat ini diucapkan dengan nada khidmat,
seolah-olah tawa adalah virus moral.

Saya sempat berpikir:
Apa iya?

Atau jangan-jangan yang keras itu bukan hati kami,
melainkan ego yang tidak siap melihat dirinya dipantulkan oleh tawa anak-anak asrama?

Kami tidak tertawa untuk merendahkan iman.
Kami tertawa karena:

  • realitas tidak sinkron dengan ceramah

  • dalil sering dipakai untuk menutup celah perilaku

  • dan kami masih terlalu muda untuk pandai berpura-pura

Kami membawa apa?
Tidak banyak.
Tidak kuasa.
Tidak mimbar.

Yang kami punya hanya fakta.
Dan saat fakta berhadapan dengan dalil yang kehilangan laku,
yang tersisa hanyalah… tawa.

Bukan tawa orang pintar.
Tapi tawa orang yang belum mati rasa.

Sekarang, ketika saya mengingat masa itu, saya tidak malu.
Saya justru bersyukur.

Karena di antara jadwal ketat, aturan kaku, dan moral yang sering hanya satu arah,
kami menemukan satu cara sederhana untuk tetap manusia:
menertawakan kontradiksi tanpa kehilangan empati.

Mungkin bagi sebagian orang, itu terdengar kurang ajar.
Bagi kami, itu cara paling jujur untuk berkata:

“Kami tidak ingin jadi suci di mulut, tapi tumpul di akal.”

Kalau iman memang kuat,
ia tidak runtuh hanya karena ditertawakan oleh siswa yang lapar dan kurang tidur.

Dan kalau hati kami tetap hidup sampai hari ini,
mungkin karena dulu, di asrama itu,
kami memilih tertawa—
agar tidak menjadi pahit terlalu cepat.


You May Also Like

0 komentar