Kenapa Pertanyaan “Nambah Anak?” Bisa Memanggil Suzana
Saya pernah heran, kok satu kalimat yang nadanya netral bisa memanggil reaksi supranatural.
Kalimatnya sederhana:
“Belum ada rencana nambah si kecil?”
Bukan interogasi.
Bukan khutbah KB.
Bukan juga ajakan lomba fertilitas.
Tapi responnya…
seperti adegan film horor jam sembilan malam.
“Iiihhhh… serem! Udah ah kapok!”
Nada naik, mata melebar, aura berubah.
Suzana lewat sebentar.
Waktu itu saya tertawa.
Bukan menertawakan orangnya—lebih ke refleks bodoh laki-laki yang belum paham medan batin. Saya tidak tanya sebab. Saya pikir: ya selera orang beda-beda.
Belakangan baru kebuka ceritanya.
Ia membesarkan anak sendirian.
Bukan janda. Suaminya ada. Lengkap secara administratif. Tapi peran ayahnya nyaris nol. Pengasuhan, emosi, logistik batin—ditanggung sendiri. Anak tumbuh, tapi ibunya mengering pelan-pelan.
Maka wajar, satu pertanyaan netral terasa seperti ancaman hidup.
Bukan soal anak kedua.
Tapi soal mengulang kesepian yang sama.
Di titik itu saya berhenti tertawa.
Karena di rumah saya, konfigurasinya beda.
Pengasuhan relatif kolaboratif. Saya membantu sebisanya. Bukan pahlawan. Bukan ayah ideal Instagram. Tapi cukup hadir supaya istri tidak merasa sendirian menahan hari. Batinnya tidak dipaksa rapi. Ia rapi karena dibantu.
Dan yang terjadi malah paradoks.
Istri saya tidak pasang kontrasepsi.
Ia ingin anak ketiga.
Saya yang bengong.
“Lho… kan sudah sepasang?”
Dalam kepala saya, logika sudah selesai.
Ia menjawab pelan, tanpa drama.
Ia melihat keluarga saya—tujuh bersaudara, ramai, akur, hidup.
Itu yang ingin ia bangun: rumah yang berisik tapi saling pegang.
Di keluarganya sendiri, ia hanya dua bersaudara, sama-sama perempuan. Setelah menikah, komunikasi domestik relatif tertutup. Sepi, tapi rapi di luar. Dan ia tidak ingin itu terulang.
Lucunya, justru saya yang ketakutan.
Trauma masa kecil saya muncul.
Banyak saudara, tapi kompetisi brutal. Rebutan lauk. Saya sering kalah cepat. Yang tersisa buat saya: ceker, kepala, dan usus.
Dari situlah—tanpa saya sadari—lahir filsafat hidup saya:
bagaimana bertahan dari sisa-sisa.
Dan kini kami saling menatap dari dua trauma berbeda.
Istri trauma sepi.
Saya trauma ramai yang tidak adil.
Lalu saya paham sesuatu yang penting:
Bukan pertanyaan “nambah anak” yang salah.
Yang salah adalah mengira semua orang berdiri di tanah batin yang sama.
Bagi sebagian ibu, anak adalah kebahagiaan yang dibagi.
Bagi sebagian lain, anak adalah kesepian yang diperpanjang.
Dan reaksi Suzana itu…
bukan lebay.
Itu alarm.
Sejak itu, saya lebih hati-hati bercanda.
Karena di balik tawa atau jeritan kecil, sering ada cerita pengasuhan yang timpang, peran yang absen, dan batin yang terlalu lama dipaksa kuat.
Kadang yang dibutuhkan bukan pertanyaan baru,
tapi kehadiran yang tidak pergi.
0 komentar