Ketika Saya Belajar Mengaku Capek, dan Tetap Tidak Menjadi Lee Min Ho
Saya menganggap hari-hari saya biasa saja.
Kerja, live, ngurus anak sekolah, foto produk, beresin gudang, antar-jemput, lanjut belajar malam, kadang live lagi. Polanya sama. Tidak ada yang istimewa. Bahkan terlihat stabil. Dari luar, mungkin terlihat “wah, kuat juga ya orang ini”.
Bedanya hanya satu: hari itu saya sadar kalau saya capek.
Bukan capek dramatis. Bukan capek yang minta dikasihani. Tapi capek yang jujur—yang biasanya saya lewati sambil pura-pura waras. Capek setelah nyetir cuma 15 menit ke sekolah, padahal jaraknya receh. Tubuh saya lunglai, kepala berat, dan batin rasanya seperti habis menginjak rem terlalu dalam.
Dulu, di titik itu, saya bingung.
“Kok capek ya?”
Lalu wajah saya jadi wajah orang mikir keras, padahal sebenarnya cuma tidak tahu kenapa tubuh begini.
Sekarang saya tahu.
Bukan karena jaraknya. Tapi karena sepanjang jalan saya mengalah terus. Mengalah ke pengendara yang nyelonong, ke ibu-ibu yang nyerobot sambil bilang “saya buru-buru antar anak”, ke situasi kecil yang sebenarnya bisa lewat saja, tapi batin saya injak remnya dalam-dalam. Rem batin. Dan rem batin, kalau sering diinjak, bocornya bukan ke emosi—tapi ke badan.
Capek ya tetap capek.
Mengetahui penyebabnya tidak membuat tubuh tiba-tiba kebal. Justru aneh kalau tiba-tiba segar. Yang berubah hanya satu: residu batin tidak tumpah ke mana-mana. Saya tahu harus ngapain. Tidur. Diam. Berhenti sebentar.
Di titik itu, saya melakukan hal yang tidak biasa: saya ngomong.
Ke istri saya, saya bilang, “Saya capek hari ini. Mau tidur satu jam. Nanti bangunin ya.”
Biasanya saya tidak begitu. Biasanya saya paksa. Biasanya saya teruskan sampai malam, sampai badan yang bayar diam-diam. Respons istri saya juga refleks manusia normal:
“Sekalian capek, selesain aja.”
Dan untuk pertama kalinya, saya tidak mengalah.
Saya jelaskan pelan: gudang berantakan tidak apa-apa. Nanti bisa. Tapi kalau saya drop, besok saya tidak bisa live. Tidak bisa kerja.
Di kalimat “besok tidak bisa live” itu, saya tahu—dia setuju. Entah karena peduli kesehatan saya, atau karena takut dampaknya ke ritme hidup kami. Tidak apa-apa. Yang penting, saya berhenti bunuh diri pelan-pelan.
Saya baru sadar: selama ini saya bukan kuat. Saya cuma tidak pernah mengakui capek.
Dan di sela-sela kesadaran itu, datang humor kecil yang justru menutup lingkarannya.
Istri saya pernah nyeletuk, sambil setengah bercanda:
“Kenapa sih kamu nggak kayak Lee Min Ho? Kamu baik, pengertian, aku banget… tapi kenapa bukan Lee Min Ho yang ada di rumah ini?”
Saya ketawa, dan tanpa mikir panjang jawab:
“Saya juga kebayangnya Lisa Blackpink ada di fisik kamu.”
Kami berdua tahu itu omong kosong yang aman. Fantasi receh yang tidak ingin diwujudkan. Lee Min Ho tidak akan nyapu gudang. Lisa Blackpink tidak akan bangunin anak sekolah. Yang ada cuma dua manusia nyata, sama-sama capek, sama-sama butuh jeda, dan masih bisa saling ngeledek tanpa perang.
Di situ saya paham:
menyamakan persepsi itu bukan soal siapa benar, siapa kuat, siapa ideal. Tapi soal berani bilang, “Saya capek,” tanpa merasa gagal jadi laki-laki, tanpa harus jadi pahlawan rumah tangga, tanpa harus tampang Korea.
Saya mungkin tidak ganteng seperti Lee Min Ho.
Bahkan yang bilang saya ganteng cuma orang di cermin.
Tapi hari itu saya belajar satu hal penting:
lebih baik menjadi manusia utuh yang tahu kapan berhenti, daripada sosok ideal yang pelan-pelan habis.
Dan rasanya, itu cukup.
0 komentar