Garam di Depan Pintu dan Ular yang Tidak Pernah Kuliah Metafisika
Ada satu hal yang lebih menyebalkan dari ular masuk rumah.
Yaitu: ditertawakan istri sendiri.
Saya bilang dengan nada setengah nostalgia, setengah reflektif: “Kalau dulu, di rumah kami, ular masuk rumah itu pertanda. Apalagi magrib.”
Istri saya berhenti sebentar, lalu tertawa kecil.
Bukan tawa jahat.
Tawa orang yang baru tahu ada sistem operasi lama di kepala suaminya.
“Baru tahu aku,” katanya.
“Bukannya rumah kita bekas kebun? Dan sampingnya juga kebun?”
Saya diam.
Mengangguk pelan.
Mengaminkan dalam hati.
Sial, batin saya.
Ternyata saya menikah dengan perempuan yang tidak takut guna-guna.
Dia lanjut bertanya, nadanya datar tapi menusuk: “Kamu kepikiran ini kiriman?”
Saya jawab jujur, tanpa drama: “Iya, kepikiran. Tapi bukan kiriman ghaib. Kiriman masalah keamanan. Kalau suatu hari ada lagi dan saya lalai, itu bahaya buat anak-anak.”
Tidak ada setan.
Tidak ada santet.
Yang ada hanya kelalaian manusia dan refleks yang telat.
Solusi saya sederhana: menambah penutup ventilasi bawah pintu.
Harusnya aman.
Lalu keluarga besar masuk ke arena.
Saran berdatangan: “Taburin garam di depan pintu.”
Saya jawab patuh, sopan, dan sedikit usil: “Baik kak. Mungkin nanti plus bumbu lainnya.”
Ternyata itu kesalahan.
Balasannya cepat: “Kamu dari dulu nyepelein hal-hal begitu.”
Saya tidak defensif.
Tidak agresif.
Saya hanya menjawab:
“Iya kak, saya lebih hati-hati lagi.”
Dalam hati, saya sedang menggelar seminar kecil.
Tentang garam.
Garam di suhu ruang… mencair.
Ular terbiasa bergesekan dengan pasir.
Pasir mengandung garam.
Ular tidak pernah mengeluh di pantai.
Saya membayangkan seekor ular berhenti di depan rumah, membaca taburan garam, lalu berpikir: “Wah, ini wilayah sakral. Mundur teratur.”
Tidak.
Ular tidak kuliah metafisika.
Ia tidak ikut grup keluarga.
Ia hanya bergerak karena habitatnya dirampas dan perutnya lapar.
Tapi saya tidak berdebat.
Karena saya tahu:
ini bukan soal efektivitas garam.
Ini soal rasa aman kolektif.
Dan saya sudah memilih jalur lain:
bukan menenangkan dengan simbol,
tapi dengan tindakan.
Ventilasi ditutup.
Celah diperiksa.
Lingkungan diamati.
Kalau mau tabur garam?
Silakan.
Asal jangan berharap ular membaca pesan tersiratnya.
Lucunya, saya tidak lagi marah.
Tidak lagi ingin meluruskan semua orang.
Saya cukup berdiri di versi saya sendiri.
Dulu saya ribut karena percaya terlalu banyak.
Sekarang saya tenang karena memilih mana yang perlu.
Dan kalau suatu hari ular datang lagi,
saya tidak akan bertanya:
“Ini kiriman siapa?”
Saya hanya akan bertanya: “Masuknya dari mana?”
Karena ternyata,
kedewasaan itu bukan soal menertawakan yang lama,
tapi berhenti memaksa yang lama harus ikut logika kita.
Termasuk keluarga.
Termasuk garam.
Termasuk ular.
0 komentar