Ayah, Lagu, dan Dosa Kecil Bernama Plesetan Lirik

by - 12:00 PM

Saya tumbuh di rumah yang kaset pitanya tidak pernah bertanya: ini lagu pantas atau tidak. Yang penting muter. Dari yang liriknya lurus sampai bengkok, dari cinta suci sampai galau tidak jelas. Saya tidak mengerti maknanya waktu kecil, tapi telinga saya kenyang. Dan rupanya, dari situ benih kejahilan kecil itu tumbuh.

Masuk remaja, tongkrongan jadi panggung. Teman main gitar, saya ikut nyanyi. Tapi ada satu kebiasaan yang bikin mereka tertawa: saya tidak menyanyikan lirik apa adanya. Saya pelesetkan. Nadanya tetap, tapi kata-katanya saya sabotase pelan-pelan. Kadang lucu, kadang sinis, kadang ya… marah yang disamarkan.

Waktu itu saya tidak sadar, pelesetan lirik adalah cara saya protes. Protes pada metafora cinta yang kelewat lebay, pada kalimat puitis yang rasanya tidak relevan dengan hidup saya yang cuma anak tongkrongan. Maka lahirlah reff absurd:
“Kupetik bintang… gak nyampe.”
Teman tertawa, saya lega. Limbah emosi keluar lewat lagu.

Masalahnya, kebiasaan yang tidak disadari biasanya tidak mati, hanya berganti panggung.

Saat saya punya anak, dan mobil jadi ruang bersama, lagu kembali diputar. Dan tanpa sadar, ayah ini kembali menjadi dirinya yang lama: memelesetkan lirik. Anak dan istri tertawa. Katanya biar perjalanan tidak membosankan. Awalnya aman, terasa seperti hiburan ringan.

Sampai suatu hari saya sadar: anak saya ikut memelesetkan lagu.

Di titik itu, refleksi datang. Bukan panik, tapi waspada. Saya tidak takut anak saya lucu. Saya takut anak saya tidak tahu konteks. Maka saya pasang jangkar. Pelan-pelan, tanpa ceramah.

“Ayah nyanyi cuma hiburan ya, kak. Kalau sama ayah atau teman dekat, boleh. Tapi kalau di depan orang lain, apalagi acara resmi, bisa disangka menghina.”

Dia mengangguk. Tidak drama. Tidak debat. Jangkar tertancap.

Menariknya, beberapa waktu kemudian saya mengisi sesi singkat di hadapan emak-emak. Ice breaking. Lagu ibu dinyanyikan, lalu dipelesetkan sedikit. Bukan menghina, tapi mengajak bermain.
Saya bilang “mengandung”, mereka menjawab “melahirkan”.
Tawa pecah. Anak saya melihat, lalu bertanya, “kok ayah lagunya makin aneh?”

Saya jawab jujur, “itu namanya ice breaking.”
Dia mengangguk lagi.

Di situ saya sadar sesuatu: yang ditiru anak bukan pelesetannya, tapi kesadaran kapan dan untuk siapa.

Plesetan lirik, ternyata, bukan soal lucu atau tidak lucu. Ia soal konteks. Di tongkrongan, ia jadi katup. Di mobil, ia jadi hiburan. Di forum, ia jadi alat pemecah es. Tapi di tempat yang salah, ia bisa berubah jadi senjata.

Dan mungkin itu pelajaran kecil yang tidak pernah saya dapat waktu kecil: bahwa humor bukan dosa, asal tahu ruangnya. Bahwa lucu tidak harus liar. Dan bahwa ayah boleh konyol, selama tidak kehilangan rem.

Sekarang, kalau anak saya menyanyi, saya tidak buru-buru melarang. Saya hanya mendengar. Kalau nadanya masih aman, saya ikut tertawa. Kalau mulai kebablasan, saya ingatkan.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal meluruskan semua lagu.
Kadang, yang kita butuhkan hanya tahu: kapan boleh fals, dan kapan harus pas nada.

You May Also Like

0 komentar