Tertawa Seperti Orang Kurang Ingatan Adalah Bentuk Paling Waras dari Keluarga Saya

by - 9:00 PM

Saya membayangkan adegan itu dengan sangat jelas.

Saya dan abang kedua saya tertawa bersama. Bukan tawa sopan. Bukan tawa beradab. Tapi tawa yang kalau dilihat orang lain, mungkin akan diberi label: kurang istirahat, kurang iman, atau kurang waras. Tawa yang keras, pecah, tanpa konteks. Tawa yang tidak sedang merayakan apa-apa, kecuali satu hal: hidup ini absurd, dan kami masih hidup di dalamnya.

Abang kedua saya itu badannya besar, wajahnya kocak, dan kalau tertawa seperti mesin diesel mogok. Tapi jangan salah, dia bisa kejam—bukan ke orang lemah, tapi ke situasi yang bikin orang lemah harus nangis sendirian. Kalau lihat adik perempuannya capek nyuci sampai nangis, dia bukan tipe yang ceramah atau kasih motivasi. Dia tipe yang menertawakan hidupnya sampai hidup itu ciut sendiri. Seakan berkata, “Lu mau sok galak? Sini gue ketawain.”

Dan saya paham. Itu bukan meremehkan masalah. Itu memutus aliran racun sebelum sempat mengendap.

Lalu ada abang keempat saya. Usianya masih muda, tapi wajahnya seperti sudah hidup dua kali. Alisnya terangkat tinggi saat melihat kami tertawa seperti orang kurang ingatan. Tatapannya berkata satu kalimat yang tidak perlu diucapkan: “Keluarga saya kerasukan semua.”

Dia bukan salah. Dia hanya berbeda.

Abang keempat adalah tipe yang menyimpan. Mengolah. Merenung. Dia tidak meledak, tidak bocor, tidak tertawa keras. Semua masuk ke dalam. Disusun rapi. Diberi makna. Dan pelan-pelan, membentuk kerut di wajah. Bukan karena hidup lebih berat, tapi karena bebannya lebih lama tinggal di badan.

Di situ saya sadar: di keluarga saya, tidak ada satu cara tunggal untuk bertahan hidup. Ada yang bertahan dengan tawa, ada yang bertahan dengan diam. Ada yang membuang racun lewat mulut, ada yang mengurainya lewat pikiran. Tidak ada yang sepenuhnya benar. Tidak ada yang sepenuhnya salah. Yang ada hanya: siapa yang masih bisa bangun besok tanpa bocor ke mana-mana.

Orang luar mungkin melihat kami aneh. Terlalu keras tertawa. Terlalu santai menghadapi hal-hal yang katanya serius. Tapi mereka tidak tahu satu hal: di dunia yang terus menuntut orang untuk “waras” sambil tetap ditindas realitas, tertawa keras kadang adalah satu-satunya bentuk kewarasan yang tersisa.

Saya memilih tertawa. Kadang reflektif, kadang nakal, kadang seperti orang bodoh. Tapi saya tahu persis kenapa saya melakukannya. Karena saya sudah lihat alternatifnya: wajah lebih tua dari usia, tubuh lelah tanpa sebab, dan batin yang bocor ke mana-mana.

Jadi kalau suatu hari Anda melihat saya dan abang saya tertawa seperti orang kurang ingatan, jangan buru-buru menilai. Bisa jadi, di saat itulah kami sedang paling sehat. Paling sadar. Dan paling jujur menghadapi hidup yang tidak pernah berniat adil sejak awal.

Dan biarlah abang keempat saya menghela napas sambil angkat alis.
Seseorang memang harus menjaga kewarasan dengan cara berbeda.

Ha…haa…haaa…

You May Also Like

0 komentar