Anak Saya Heran Saya Masih Membaca Kertas

by - 9:00 AM

Ada satu momen kecil yang membuat saya berhenti sejenak.

Anak saya menatap saya membaca majalah, lalu bertanya dengan nada jujur—bukan mengejek, bukan meremehkan:

“Kenapa bacanya pakai kertas?”

Saya tertawa.
Bukan karena lucu, tapi karena sadar:
pertanyaan itu tulus.

Di kepalanya, informasi tidak berbunyi seperti halaman dibalik.
Informasi muncul dengan scroll, tap, dan search.
Cepat. Langsung. Tanpa jeda.

Saya mencoba menjelaskan bahwa dulu, koran dan majalah adalah cara kami mengenal dunia.
Berita datang sekali sehari.
Kalau terlewat, ya sudah.
Kami membaca dengan perlahan, karena tidak ada refresh.

Ia mengangguk, tapi saya tahu:
ia tidak sedang mencoba memahami,
ia sedang mencatat keanehan.

Keheranannya bertambah saat membeli alat elektronik.
Ia membuka dus, menemukan buku manual, lalu bertanya lagi:

“Ini buat apa? Kan ada di Google.”

Di situ saya sadar:
yang berubah bukan cuma medianya,
tapi cara berelasi dengan pengetahuan.

Saya membaca manual cetak seperti orang yang sedang diajak bicara satu per satu.
Ia membaca manual digital seperti orang yang sedang menyelesaikan misi.
Langsung ke inti.
Tanpa perlu konteks panjang.

Saya sempat merasa seperti artefak hidup.
Orang yang masih menikmati bau kertas, lipatan halaman, dan coretan pensil di pinggir teks.
Sementara anak saya hidup di dunia di mana semua bisa diperbesar, dicari, dan ditutup kapan saja.

Apakah salah satu lebih benar?
Sepertinya tidak.

Kertas mengajarkan saya kesabaran.
Layar mengajarkan anak saya efisiensi.

Saya belajar menerima bahwa bagi saya, membaca adalah ritual.
Bagi anak saya, membaca adalah fungsi.

Dan mungkin, yang perlu saya jaga bukan medianya,
melainkan kedalaman pertemuan dengan isi.

Jika anak saya membaca cepat tapi mengerti, itu cukup.
Jika ia bertanya setelah membaca, itu lebih dari cukup.

Saya tidak perlu memaksanya mencintai kertas seperti saya.
Dan ia pun tidak perlu menertawakan kebiasaan saya.

Kami hanya berdiri di dua tepi waktu yang berbeda,
saling heran,
dan itu tidak apa-apa.

Karena yang sedang berpindah bukan nilai,
melainkan wadahnya.

Dan selama anak saya masih mau membaca—
entah lewat kertas atau layar—
saya tahu, percakapan masih mungkin terjadi.


You May Also Like

0 komentar