CD yang Tidak Pernah Saya Tonton, Tapi Mengajarkan Cara Kerja Dunia

by - 8:57 AM

Selain warisan kaset pita yang berserakan di rumah—yang isinya musik random, dari ngaji sampai suara panci dipukul—ternyata ada satu artefak lain yang diselipkan rapi.

Artefak ini kalau dibuka sembarangan, bukan cuma listrik rumah yang korslet, tapi moral satu RT bisa kebakaran hebat.
Namanya: VCD olah syahwat.

Anehnya, saya sama sekali tidak kepikiran untuk menontonnya diam-diam.
Bukan karena saya alim.
Tapi karena sistem pengamanannya terlalu profesional.

Setiap kali abang saya mau melakukan ritual olah syahwat, saya “diamankan” secara halus:
disuruh jajan,
disuruh main ke tetangga,
rumah dikunci,
lampu dimatikan,
dan kalau perlu—mulut saya ditutup dengan kalimat sakti:
“Eh, jangan ke sini.”

Saya tidak tahu apa yang terjadi.
Atau lebih tepatnya: saya pura-pura tidak tahu, dan itu disepakati bersama.

Yang membuat saya berpikir justru bukan adegannya—karena saya tidak melihat apa-apa.
Yang membuat saya heran adalah pertanyaan ini:
kok bisa ya, hal paling intim manusia dijadikan komoditas?

Olah syahwat itu kebutuhan dasar.
Setara makan, tidur, dan buang air besar—bedanya ini tidak pernah masuk buku PKN.
Tapi entah bagaimana, kebutuhan ini bisa:

  • direkam
  • digandakan
  • dibajak
  • dijual sembunyi-sembunyi di pinggir jalan
  • diunduh dari situs yang namanya saja sudah bikin modem batuk

Saya ingat betul perasaan itu.
Bukan jijik.
Bukan penasaran.
Tapi kagum yang aneh.

“Wow,” batin saya waktu itu,
“saya sampai tidak kepikiran lho, ini bisa dijadikan duit.”

Ini seperti jasa titip paling absurd.
Orang tidak cuma nitip barang, tapi menitipkan hasrat.
Lalu ada orang lain yang berpikir:
“oh, ini bisa dikemas.”

Suatu hari, karena bosan main, saya nekat masuk rumah lewat pintu rahasia.
Saya mengintip sebentar layar kaca.
Ada sosok yang oleh lingkungan teman-teman saya disebut dengan kode sakral: Om Tarzan X.
Saya lihat.
Saya pahami sekilas.
Lalu… saya pergi.

Tidak ada yang aneh dari adegannya—saya bahkan tidak sempat mengurai apa yang terjadi.
Yang aneh tetap sama:
kok bisa ini kepikiran dijadikan industri?

Di lingkungan teman saya, film itu bukan soal isi.
Ia penanda status.
Simbol keberanian.
Bukan berani jujur—tapi berani melanggar.

“Gue udah nonton Tarzan X,”
artinya bukan: gue paham tubuh manusia.
Tapi: gue nakal dan tahu pintu belakang dunia.

Saya cuma geleng kepala.
Bukan karena sok suci.
Tapi karena logika saya tersandung:
kok ukuran kenakalan ditentukan oleh VCD?

Belakangan saya mengerti.
Masalahnya bukan pada syahwatnya.
Masalahnya ada pada cara manusia memperlakukan kebutuhan dasar.

Ketika kebutuhan tidak boleh dibicarakan sehat,
ia akan mencari jalan sendiri—
lewat lorong gelap,
lewat transaksi sembunyi-sembunyi,
lewat komoditas yang lebih cepat dijual daripada dipahami.

Dan di situ, saya menarik napas kecil.

Saya tidak anti tubuh.
Saya tidak anti hasrat.
Saya hanya heran kenapa hal yang paling manusiawi
lebih sering dijelaskan lewat VCD bajakan
daripada lewat percakapan yang waras.

Kesimpulan batin saya sederhana:
VCD itu tidak pernah saya tonton.
Tapi ia mengajarkan satu hal penting—
bahwa apa pun yang ditekan terlalu lama,
akan muncul kembali sebagai pasar
.

Kadang bentuknya film.
Kadang simbol kenakalan.
Kadang cuma jadi cerita lucu yang saya ceritakan ke diri sendiri.

Dan saya tersenyum kecil.
Ternyata, bahkan dari VCD yang tidak pernah saya tonton,
saya tetap belajar cara kerja dunia.

You May Also Like

0 komentar