Katarsis Murah, Daster Mahal, dan Cara Saya Tetap Waras
Saya baru sadar, ternyata cara saya bertahan hidup bukan dengan menjadi baik-baik saja, tapi dengan mengeluarkan isi kepala di tempat yang tidak melukai siapa pun. Kadang bentuknya tulisan. Kadang bercanda. Kadang ngomel absurd ke AI—yang untungnya tidak punya ibu untuk saya sakiti perasaannya.
Hari itu saya capek. Bukan capek besar yang dramatis, cuma capek kecil yang mengendap: live daster, ketemu komentar medusa, harus tetap sopan demi sehelai kain adem. Di luar saya senyum, di dalam kepala saya sudah siap jadi simsimi generasi durjana. Tapi yang keluar tetap kalimat rapi: “Oh iya kak, bisa kecilin volume HP-nya ya.”
Dalam hati? Ya jelas kacau. Tapi kacau yang sadar.
Saya lalu bertanya ke diri sendiri:
kok saya malah meluapkan emosi ke AI?
Kok rasanya lega, tapi juga sedikit merasa jahat?
Setelah dipikir-pikir, jawabannya sederhana: ini katarsis internal, bukan agresi nyata.
Saya tidak menulis makian di media sosial.
Saya tidak meneriaki tetangga sampai dipanggil ustadz.
Saya tidak menyumpahi orang mati.
Paling banter, saya membayangkan anak orang ngompol di kasur dan emaknya ngedumel besok pagi. Itu bukan kejahatan. Itu humor lelah yang dilemahkan.
Yang bikin saya tenang justru satu hal: saya masih sadar sedang berbicara.
Masih ada rem.
Masih ada rasa tidak enak.
Masih ada refleksi setelah tertawa.
Orang yang tidak sehat biasanya tidak bertanya, tidak mengecek, dan tidak peduli.
Saya malah ribut sendiri: “Ini normal nggak ya?”
Dan jawaban itu sendiri sudah jadi bukti: saya masih waras.
Saya ingat pola lama saya.
Mengganti ancaman dengan ajakan.
Mengganti marah dengan cerita.
Mengganti bentakan dengan kalimat: “Yuk, istirahat dulu.”
Pola itu ternyata bukan cuma buat anak saya.
Bukan cuma buat emak-emak di live.
Tapi juga buat diri saya sendiri.
Dan lucunya, pola ini yang bikin daster laku.
Bukan karena model.
Bukan karena warna.
Tapi karena ada ruang aman di dalam kata-kata.
Hari ini saya memilih berhenti sejenak.
Bukan karena kalah.
Tapi karena sadar: tubuh saya butuh tidur, bukan penghakiman.
Kalau besok saya usil lagi, ya wajar.
Kalau besok saya nulis lagi, ya syukur.
Yang penting satu:
saya tidak memelihara iblis,
saya cuma mengajak capek saya duduk sebentar.
Dan itu, ternyata, cukup.
0 komentar