Dari Ceker Ayam ke CEO Menyamar: Saya Dibesarkan untuk Tidak Rewel
Saya baru sadar, ibu saya itu jenius.
Bukan jenius akademik, bukan pula jenius strategi bisnis.
Tapi jenius menjinakkan konflik sebelum konflik itu lahir.
Caranya sederhana:
saya dikasih ceker ayam.
Waktu abang-abang saya menikmati dada dan paha—bagian ayam yang secara sosial lebih bergengsi—saya duduk manis dengan kepala ayam, ceker, usus, dan kadang insang ikan. Anehnya, tidak ada drama. Tidak ada tangis. Tidak ada iri yang meledak-ledak. Kenapa? Karena ibu saya tidak bilang, “Ini sisa.”
Beliau bilang, dengan wajah serius seperti guru spiritual:
“Makan ceker biar kuat menapaki kehidupan.
Makan kepala biar jadi pemimpin.
Makan usus biar kamu paham hidup itu berliku.”
Sialnya, saya percaya.
Di kepala anak kecil, itu terdengar filosofis.
Di kepala orang dewasa seperti saya sekarang, itu terdengar seperti:
strategi tingkat tinggi agar anak paling kecil tidak rewel karena kebagian sisa.
Dan berhasil.
Yang lebih lucu, efeknya panjang.
Sampai hari ini, di rumah sendiri, ayam utuh tersedia, saya tetap refleks memilih ceker dan kepala. Bukan karena miskin. Bukan karena terpaksa. Tapi karena ada sensasi aneh: ini bagian saya. Dada ayam malah sering bolak-balik kulkas, dipanaskan, diabaikan, lalu akhirnya saya makan juga dengan wajah datar. Tidak nikmat. Tidak sakral.
Saya dibentuk untuk nyaman di posisi yang tidak diperebutkan.
Makanya, waktu saya nonton drama China receh—CEO menyamar jadi OB, dihina habis-habisan, lalu mendadak membekukan perusahaan—saya ketawa, tapi juga mikir:
“Jangan-jangan hidup memang suka pakai kostum.”
Bukan soal CEO atau OB.
Tapi soal cara manusia memperlakukan yang terlihat kecil.
Saya jadi sadar, mungkin karena dari kecil saya terbiasa di posisi “yang kebagian sisa”, saya tidak otomatis mengukur orang dari penampilannya. Saya tidak alergi jadi figuran. Tidak gatal membuktikan diri. Bahkan cenderung waspada pada posisi tinggi.
Karena saya tahu:
yang kelihatan dada ayam, belum tentu bergizi batin.
yang kelihatan ceker, belum tentu tidak berguna.
Ibu saya mungkin tidak pernah membaca filsafat.
Tapi ia paham satu hal penting:
kalau hidup tidak adil, beri makna agar anak tidak tumbuh jadi manusia pendendam.
Dan itu berhasil juga ke mana-mana.
Di kerjaan, saya tidak betah di sistem yang munafik.
Di pergaulan, saya tidak silau jabatan.
Di hidup, saya tidak rewel soal peran.
Bukan karena saya suci.
Tapi karena sejak kecil, saya sudah dilatih menerima kenyataan dengan bumbu makna—walau ternyata makna itu akal-akalan emak biar ayam tidak jadi ribut.
Dan hari ini, saya bisa menertawakan semuanya tanpa pahit.
Ternyata, ceker ayam itu bukan simbol kepemimpinan.
Ia simbol keluwesan menerima hidup tanpa harus merengek minta paha.
Terima kasih, Mak.
Dari sisa ayam, lahir batin yang tidak rewel.
0 komentar