Takut Sama OB: Catatan Manajer Kecil yang Kebanyakan Nonton Drama Cina

by - 9:00 PM

Saya sering nonton drama China. Yang durasinya pendek, tapi dramanya seperti cicilan dosa: dikit-dikit tapi bikin nagih. Polanya sudah hafal luar kepala. Seorang CEO maha kaya, wajah dingin, jam tangan mahal tapi disembunyikan, tiba-tiba menyamar jadi OB di cabang perusahaan sendiri. Alasannya mulia: ingin melihat langsung kebusukan sistem.

Lalu dimulailah ritual nasional drama itu:
si OB dihina.
dilecehkan martabatnya.
disuruh ngepel lantai pakai harga diri.

Saya ketawa. Bukan karena kasihan, tapi karena absurd. Masa iya, setiap perusahaan isinya orang-orang goblok semua kecuali satu OB yang ternyata pemilik jagat? Tapi saya tetap nonton. Otak saya protes, batin saya menikmati.

Sampai di satu titik, saya berhenti ketawa.
Saya malah mikir.

“Jangan-jangan… ini bukan tentang CEO.”

Ini tentang cara manusia memperlakukan manusia yang kelihatannya ‘kecil’.

Sejak itu, muncul pikiran liar yang tidak saya undang tapi betah nongkrong di kepala:
Gimana kalau di dunia nyata juga ada CEO yang nyamar?
Bukan buat drama, tapi buat lihat:
siapa yang sopan, siapa yang berkuasa setengah matang, siapa yang mentang-mentang punya jabatan.

Dan pikiran itu berubah jadi paranoia lucu.
Saya mulai berpikir:
“Wah, saya harus baik sama karyawan saya.”

Bukan karena saya suci.
Bukan karena saya manajer teladan.

Tapi karena:
siapa tahu satu di antara mereka adalah CEO menyamar, lagi nentuin apakah saya pantas dapat suntikan modal… atau justru ditutup pelan-pelan tanpa pamit.

Konyol? Iya.
Tidak logis? Jelas.

Tapi anehnya, pikiran konyol itu malah membuat saya lebih waras.

Saya jadi mikir dua kali sebelum ngomel.
Tiga kali sebelum sok galak.
Empat kali sebelum ngerasa paling penting di ruangan.

Bukan karena takut dibekukan dewan komisaris fiktif.
Tapi karena saya sadar:
kekuasaan kecil sering bikin orang lupa ukuran dirinya sendiri.

Drama China itu memang lebay.
Debatnya absurd.
Plot twist-nya murahan.

Tapi ia tanpa sengaja menampar saya pelan:
cara kita memperlakukan orang tidak seharusnya bergantung pada jabatan yang kita kira mereka miliki.

Karena di dunia nyata, tidak ada musik dramatis saat kita bersikap semena-mena.
Tidak ada adegan slow motion saat kita meremehkan orang.
Yang ada cuma bekas—di orang lain, dan di batin kita sendiri.

Dan di akhir semua pikiran ini, saya sampai pada kesimpulan sederhana, nyaris kekanak-kanakan, tapi terasa ajeg:

Saya akan memperlakukan karyawan saya dengan baik.
Bukan karena mereka mungkin CEO menyamar.

Tapi karena kalau saya cuma bisa sopan pada orang yang saya anggap penting,
berarti sebenarnya saya orang kecil yang sedang berpura-pura besar.

Kalau pun suatu hari ternyata benar ada CEO nyamar di antara mereka,
ya syukur.
Kalau tidak ada pun, tidak apa-apa.

Setidaknya saya tidak jadi tokoh antagonis di drama murahan versi hidup saya sendiri.

You May Also Like

0 komentar