Dari Ceker, CEO Menyamar, dan Orang Waras yang Kadang Ngakak Sendiri

by - 12:00 PM

Saya baru sadar, kalau di-scroll ke atas, hidup saya ini seperti feed yang lupa dikurasi algoritma.

Ada sedih.
Ada temaram batin.
Ada refleksi berat.
Lalu tiba-tiba… ngakak ala ODGJ yang kelelahan tapi belum gila sepenuhnya.

Dan anehnya, semuanya nyambung.

Saya tumbuh dengan ceker, kepala ayam, usus—bagian yang hari ini disebut tidak layak oleh standar modern. Tapi ibu saya tidak pernah menyebutnya sisa. Ia menyebutnya makna.
“Kepala biar jadi pemimpin.”
“Ceker biar kuat menapaki hidup.”
“Usus biar paham labirin kehidupan.”

Sekarang saya sadar: bisa jadi itu hanya cara ibu supaya saya tidak rewel karena tidak kebagian dada dan paha.
Tapi entah kenapa, kebohongan kecil itu tumbuh jadi filsafat besar di kepala saya.
Saya ragu.
Saya marah.
Saya mengendapkan.
Lalu… saya tertawa dan makan lagi.

Mungkin dari sanalah kebiasaan ini muncul:
melihat hidup tidak lurus, tapi berlapis-lapis.

Saya bisa serius, tapi tidak betah terlalu lama.
Saya bisa reflektif, tapi tetap pengin usil.
Saya bisa sabar, tapi di kepala kadang muncul adegan psikopat: klakson panjang, kunci inggris, dan kepala orang lain yang… ya sudahlah, tidak perlu dilanjutkan.

Untungnya, adegan itu selalu berhenti di kepala.
Karena tubuh saya lebih memilih: tarik napas, geser jalur, dan jalan lagi.

Saya sering terlihat “tenang”.
Padahal di dalam, kabel-kabel batin ini saling topang supaya tidak korslet.
Mirip AI: di permukaan rapi, di dalam penuh jaringan.
Bedanya, AI tidak butuh tidur.
Saya butuh.
Dan seringkali, satu-satunya obat mujarab saya memang cuma itu: tidur.

Di live commerce, saya bisa ikut gila dengan komentar gila.
Yang lucu, saya lebih lucu.
Yang netral, saya netral.
Yang kontemplatif, saya bisa jadi terlalu dalam.
Capek? Jelas.
Tapi dari situ saya belajar satu hal: manusia sering hanya butuh ditemani di ritmenya, bukan dikoreksi.

Akun bernama Lele Terbang mengajarkan itu.
Hampir saya blok.
Ternyata dia cuma bertahan hidup dengan caranya sendiri.
Saya ikut tertawa.
Dia beli lima daster.
Kami sama-sama waras dengan cara masing-masing.

Saya juga sering menonton drama China absurd: CEO menyamar jadi OB.
Hina-dina.
Telepon dewan komisaris.
Perusahaan cabang dibekukan. Tamat.

Dan pikiran saya yang usil langsung bekerja:
“Kayaknya saya harus memperlakukan semua karyawan dengan baik. Siapa tahu salah satunya CEO menyamar yang sedang menilai apakah saya pantas hidup.”

Konyol? Iya.
Tapi sejak kapan hidup tidak konyol?

Saya mendidik anak dengan pola yang sama: bukan proteksi berlebihan, tapi memberi peta.
Saya tanya soal bullying bukan karena anak saya lemah, tapi karena saya tahu:
orang yang terlalu lama menahan sering menyimpan ledakan paling berbahaya.

Anak saya berteman lintas iman tanpa tahu istilah toleransi.
Ia cuma makan bareng, penasaran, lalu lanjut hidup.
Dan di titik itu saya bangga—diam-diam.

Soal rumah tangga?
Saya tertawa setiap dengar kalimat “mengayuh bahtera”.
Yang bertanya seringnya sedang menuju pengadilan agama.
Saya tidak menasehati.
Saya cuma bercanda:
“Cie duda baru.”
“Atau: kamu sekarang lebih cerah, kemarin mirip medusa.”

Lucu?
Iya.
Kejam?
Tidak juga.
Karena hidup memang tidak selalu perlu diselamatkan—kadang cuma perlu ditertawakan supaya tidak mengeras jadi racun.

Pada akhirnya, dari semua refleksi ini, saya tahu satu hal sejak dulu:
saya tidak mengejar hebat, tidak mengejar suci, tidak mengejar paham.

Saya cuma ingin cukup.

Dan kalau waras saya hari ini lahir bukan dari kelas filsafat,
tapi dari dapur penuh asap,
dari ceker dan kepala ayam,
dari ibu yang mungkin cuma ingin anaknya berhenti rewel—

maka tidak apa-apa.

Saya akan bangun monumen kecil bernama: Ceker.
Bukan untuk dikenang orang lain.
Cukup untuk mengingatkan diri sendiri:
saya pernah lapar, pernah bingung, pernah marah,
dan tetap memilih hidup dengan senyum miring.

Kadang reflektif.
Kadang usil.
Kadang ngakak sendirian.

Dan itu, ternyata, masih manusia utuh.

You May Also Like

0 komentar