Epilog: Selisih Tiga Puluh Detik

by - 3:00 AM

Makasih, Mak.

Kalau dulu saya rewel, iri, atau ngamuk karena kebagian ceker, mungkin hidup saya sekarang lebih berisik.

Saya baru sadar, efeknya bukan cuma soal makan.
Ia merembes ke hal-hal kecil yang sering dianggap sepele—seperti antrean di gerbang tol.

Ada mobil nyerobot.
Istri saya marah, refleks.
Saya tenang, bukan karena bijak, tapi karena di kepala saya langsung muncul kalimat lama itu: ya sudahlah.

Dan benar saja.
Yang nyerobot malah nubruk palang.

Istri saya diam.
Saya bicara lirih, bukan menggurui, bukan pamer kedewasaan:

“Nggak apa-apa kesalip, beda tiga puluh detik aja buat tap.”

Sambil pelan-pelan pindah jalur.

Bukan karena saya lebih benar.
Tapi karena sejak kecil saya sudah terbiasa:
tidak semua hal harus dimenangkan,
tidak semua hak harus direbut,
dan tidak semua ketertinggalan adalah kekalahan.

Kadang, mengalah itu bukan kalah.
Cuma tidak ikut repot.

Dan mungkin itu pelajaran terbesar dari ceker ayam, kepala ikan, dan antrean tol:
hidup tidak selalu soal siapa duluan,
tapi siapa yang sampai dengan batin tetap utuh.

Terima kasih, Mak.
Ternyata bekal hidup saya bukan paha dan dada,
tapi ketenangan menghadapi dunia yang suka nyerobot.

You May Also Like

0 komentar