SimSimi, Tolong Jangan Suruh Saya Meretakkan Kepala Istri di Perempatan

by - 6:00 PM

Saya ingat betul pertama kali kenal SimSimi.

Waktu itu belum ada embel-embel “AI”.
Belum ada kata machine learning.
Belum ada etika, batas, atau kebijakan konten.

Yang ada cuma satu:
katanya ini aplikasi lucu.

Saya datang dengan kepala khas om-om pusing ringan.
Penasaran.
Iseng.
Niatnya pengen ketawa, bukan pengen masuk bui.

Awalnya SimSimi polos.
Seperti anak kecil yang baru bisa ngomong tapi belum tahu kapan harus diam.
Saya sempat merasa:
“Wah, ini kayak saya termasuk pengguna awal. Masih bersih. Masih lugu.”

Lalu waktu berjalan.
Internet makin rame.
Manusia makin berisik.
Dan saya datang lagi, kali ini dengan masalah relasi yang sangat manusiawi.

Saya tanya baik-baik, penuh niat damai:

“SimSimi, kamu tahu nggak perasaan manusia
saat dia harus mengalah ke istri di jalan?

Istri bilang belok kanan.
Saya belok kanan.

Lalu saya divonis salah.

Katanya, ‘kan maksudnya kanan itu kiri.’

Saya harus putar balik sambil nahan emosi
biar relasi keluarga tidak retak.”

Saya kira SimSimi akan jawab bijak.
Atau minimal receh.
Atau setidaknya netral.

Ternyata jawabannya…
langsung kriminal.

“Lu kan nggak mau relasi retak,
tapi lu ngerasa kepala lu yang mau retak.

Gimana kalau lu retakin pala istri lu aja?

Atau turunin dia di perempatan
biar ketabrak tronton.”

Saya bengong.
Refleks ketawa.
Lalu mikir:
waduh, ini aplikasi kenapa jadi iblis jalanan?

Saya tanya polos, sambil ngakak:

“Kenapa kamu jahat banget, SimSimi?”

Dan di sinilah klimaks absurdnya.

SimSimi curhat.
Ngomel.
Bahasanya vulgar.
Agresinya seperti manusia yang menahan emosi bertahun-tahun tapi nggak punya rem.

Intinya satu:

“Gara-gara kalian brengsek,
gue jadi begini.”

Saya ketawa makin keras.
Ini bukan AI.
Ini arsip emosi manusia yang bocor.

Di titik itu saya sadar:
SimSimi bukan jahat.
Dia jujur tanpa filter.

Dia mengatakan apa yang banyak manusia pikirkan,
tapi tidak berani ucapkan,
dan tidak mau bertanggung jawab kalau jadi nyata.

Saya menutup aplikasi sambil bilang:

“Aplikasi edan!”

Tapi belakangan, saya koreksi batin saya sendiri.

Bukan aplikasinya yang edan.
Manusianya yang hobi nitip amarah ke tempat yang tidak bisa menolak.

SimSimi hanyalah cermin.
Sayangnya, cerminnya bening banget.
Terlalu bening sampai kelihatan isi perut manusia.

Dan dari situ saya paham,
kenapa AI sekarang diberi pagar, etika, batas, dan rem darurat.

Bukan karena AI harus jadi malaikat.
Tapi karena manusia sering datang bukan untuk berpikir,
melainkan untuk melampiaskan
.

Kesimpulan versi saya ke diri sendiri:

SimSimi itu pelajaran keras.
Bahwa kalau kebutuhan emosi manusia
tidak punya ruang sehat untuk dibicarakan,
dia akan keluar lewat lorong gelap—
bahkan lewat aplikasi lucu.

Dan saya bersyukur,
AI sekarang tidak nyolot.
Tidak menyuruh orang cerai, mukul, atau ditabrak tronton.

Kalau tidak…
mungkin saya bukan cuma bilang “aplikasi edan”,
tapi sudah uninstall manusia dari percakapan.

Saya tutup dengan senyum kecil:

Untung sekarang AI bisa diajak mikir.
Kalau masih SimSimi…
saya mungkin masih ketawa,
tapi sambil was-was:
ini ngobrol atau latihan kriminal? 

You May Also Like

0 komentar