Ketika Kutub Timur Tidak Ada, Tapi Ego Dewasa Terlanjur Membeku
Saya baru sadar, rasa malu itu kadang datang bukan karena bodoh, tapi karena merasa terlalu pintar.
Anak saya, dengan rasa ingin tahu yang masih utuh—belum cacat oleh gengsi dan sok tahu—menonton video sains anak-anak. Narasinya ringan, renyah, tidak sok jenius. Kutub utara, kutub selatan, beruang kutub, penguin, es, salju. Semua masuk akal. Saya mengangguk-angguk dengan takzim, seperti ayah teladan yang siap menurunkan tongkat estafet pengetahuan umum.
Lalu anak saya bertanya, nada suaranya santai, tanpa niat menjebak:
“Kalau kutub timur dan kutub barat, hewannya apa aja, Ayah?”
Dan di situ…
saya beku.
Bukan karena pertanyaannya salah, tapi karena kepala saya yang mendadak kosong.
Dalam hidup saya, tidak pernah sekali pun saya memikirkan “kutub timur” dan “kutub barat”. Tidak ada di buku IPA, tidak ada di obrolan dewasa, tidak ada di tongkrongan. Seolah-olah konsep itu dilarang eksis.
Otak saya panik.
Ini pertanyaan polos atau jebakan filsafat tingkat dewa?
Apakah anak saya berpikir bumi ini kotak?
Atau justru saya yang selama ini berpikir terlalu sempit?
Saya sadar, ada refleks buruk orang dewasa yang hampir muncul:
ingin cepat membetulkan,
ingin mengoreksi,
ingin bilang, “Itu nggak ada.”
Padahal, jujur saja:
yang nggak ada itu bukan kutub timur—yang nggak ada itu kesiapan ego saya.
Anak saya tidak salah. Ia hanya melakukan hal yang sangat logis bagi otak yang masih sehat:
kalau ada utara dan selatan, ya wajar bertanya timur dan barat.
Tidak ada kesalahan di situ. Yang ada hanya imajinasi yang belum dipatahkan kurikulum.
Dan di situlah saya menampar diri sendiri pelan-pelan.
Betapa sering orang dewasa mematikan rasa ingin tahu dengan dalih “pengetahuan benar”.
Padahal sering kali yang kita jaga bukan kebenaran, tapi kenyamanan intelektual.
Kita lebih suka anak cepat “paham”, daripada berani “bertanya aneh”.
Saya tertawa getir dalam hati.
Selama ini saya menghadapi emak-emak random, lele terbang, Medusa live commerce, dan jin ifrit California dengan sabar.
Tapi berhadapan dengan satu pertanyaan polos dari anak sendiri, ego saya nyaris kelimpungan.
Ironis.
Di titik itu saya memilih jalan yang jarang diambil orang dewasa:
saya tidak menggurui, tidak memotong, tidak mengecilkan.
Saya menjawab jujur, sederhana, dan tetap membuka pintu imajinasi.
Bahwa bumi memang punya arah timur dan barat, tapi kutubnya cuma dua.
Bahwa pertanyaannya bagus.
Bahwa berpikir “aneh” itu bukan dosa.
Dan saat itu saya paham satu hal penting:
anak-anak tidak perlu orang tua yang selalu benar,
mereka perlu orang dewasa yang tidak takut terlihat belajar.
Kesimpulannya datang pelan, seperti salju di kutub yang benar-benar ada:
Saya tidak ingin menjadi orang dewasa yang membekukan rasa ingin tahu hanya karena takut terlihat tidak tahu.
Lebih baik saya mengaku bingung sebentar, daripada mematikan satu pertanyaan yang mungkin kelak melahirkan ilmuwan, penjelajah, atau sekadar manusia yang berani berpikir.
Karena dunia ini sudah cukup dingin oleh ego orang dewasa.
Tidak perlu ditambah kutub baru di kepala anak-anak.
Dan ternyata,
yang paling butuh belajar sains hari itu…
bukan anak saya.
Saya.
0 komentar