Catatan Lapangan Seorang Suami Sunda: Mengapa Kombinasi Jawa–Sunda Perlu Regulasi Negara

by - 12:00 PM

Saya baru sadar, pernikahan saya ini bukan sekadar penyatuan dua insan.

Ini eksperimen antropologi hidup.
Dan saya subjek sekaligus korban.

Saya orang Sunda.
Istri saya orang Jawa.

Di atas kertas, ini harmonis.
Di meja makan, ini potensi bencana hayati.

Saya makan lalapan.
Mentah.
Daun kemangi, daun cipir, pare mentah plus rambatnya.
Kalau tersesat di hutan, saya tidak panik. Saya deforestasi dengan tenang.
Saya bukan herbivora karena tersesat, tapi karena yakin: alam ini aman kalau kita kenal daunnya.

Istri saya?
Dia Jawa.
Bangsa yang secara historis pernah memutuskan:
“Kalau ulat bisa hidup di daun jati, berarti ulat itu punya potensi pangan.”

Saya meledek:
“Kalian makan belalang, ulat jati, laron… bangsa aneh.”

Dia balas santai, tanpa emosi:
“Emang dimakan di sini.”

Saya kaget.
“Terus kamu makan?”

“Enggak. Geli.”

BUSYET.

Jadi ini bukan soal dimakan atau tidak.
Ini soal pengetahuan bahwa itu bisa dimakan.
Itu lebih berbahaya.

Di titik itu saya sadar:
kalau kami berdua tersesat di hutan—

Saya akan menghabisi tumbuhan dengan penuh keyakinan moral.
Istri saya akan menghabisi fauna dengan arsip budaya di kepala.

Saya deforestasi.
Dia eksekusi hayati.

Kalau ini dilepas tanpa regulasi,
hutan tidak hanya habis.
Hutan dipahami dulu, lalu dihancurkan dengan niat baik.

Dan di sinilah DPR harus turun tangan.

Ini bukan urusan rumah tangga lagi.
Ini isu kebijakan publik.

Saya membayangkan naskah akademiknya:

“Bahwa kombinasi suami Sunda dan istri Jawa, bila tersesat di alam bebas tanpa pendamping ekolog, berpotensi menyebabkan kerusakan hayati simultan dari sisi flora dan fauna.”

Minimal harus ada:

  • Himbauan nasional:
    “Warga kombinasi Sunda–Jawa dilarang tersesat bersama.”
  • Pasal khusus:
    Daun pintu bukan pangan.
    Anak tikus merah tidak termasuk protein darurat.

Karena masalahnya bukan niat jahat.
Masalahnya: kami sama-sama merasa benar.

Saya merasa benar karena hijau.
Dia merasa benar karena sejarah.

Dan di situlah saya belajar hal paling penting:
hidup berdampingan itu bukan soal siapa paling suci, paling alami, atau paling tradisional.
Tapi siapa yang cukup sadar untuk berhenti sebelum alam benar-benar habis.

Syukurnya, kami masih bisa tertawa di meja makan.
Syukurnya, yang dimakan masih ayam goreng biasa.
Syukurnya, negara belum perlu turun tangan.

Tapi kalau suatu hari kami piknik ke hutan dan sinyal hilang…
tolong laporkan ke pihak berwenang.

Demi alam.
Demi bangsa.
Demi daun pintu yang tidak bersalah.


You May Also Like

0 komentar