Ketika Pesan Ilahi Disampaikan dengan Amarah, Apa yang Sebenarnya Tumbuh?
Saya sering bertanya ke diri sendiri:
mengapa pesan yang katanya suci, agung, dan penuh cinta—justru sering sampai ke telinga manusia dalam bentuk teriakan, ancaman, dan kata-kata yang terasa kejam?
Padahal saya tahu, dalam teks paling dasarnya, Tuhan memperkenalkan diri dengan dua sifat yang lembut: rohman dan rohim. Maha Pengasih, Maha Penyayang. Bukan Maha Membentak. Bukan Maha Mengancam.
Namun di ruang-ruang publik, saya justru lebih sering mendengar pesan ilahi disampaikan dengan intonasi tinggi, wajah tegang, dan diksi yang seolah memukul:
neraka dekat, azab menunggu, kalian rusak, kalian salah.
Saya mencoba jujur membaca dampaknya—bukan niatnya, tapi akibatnya.
Dan yang tumbuh bukan ketundukan batin.
Yang tumbuh adalah ketegangan.
Manusia yang terus-menerus dicekik dengan ancaman akan belajar satu hal: bertahan.
Bukan mendekat.
Saya melihat pola itu berulang.
Pendengar menjadi apatis: datang, duduk, mendengar, tapi batinnya menutup.
Atau defensif: membela diri, mencari celah pembenaran, menolak sebelum memahami.
Atau lebih parah—agresif: membawa amarah itu keluar, lalu menyalurkannya ke orang lain atas nama kebenaran.
Saya mulai sadar, mungkin masalahnya bukan pada ajaran, tapi cara menyampaikannya.
Karena pesan ilahi bukan sekadar informasi.
Ia menyentuh wilayah terdalam manusia: rasa bersalah, harapan, takut, cinta, dan makna hidup.
Kalau wilayah itu disentuh dengan kekerasan, jangan heran kalau responsnya bukan taat, tapi luka.
Saya tidak sedang menyalahkan para pemuka agama. Banyak dari mereka lelah, frustrasi, melihat umat yang tidak berubah. Saya paham itu.
Tapi saya juga belajar satu hal penting:
amarah mungkin membuat orang diam, tapi tidak membuat mereka sadar.
Diam karena takut bukan berarti paham.
Patuh karena terancam bukan berarti ikhlas.
Di titik ini, saya meluruskan satu hal ke diri sendiri:
ruh ilahiyah tidak pernah selaras dengan teror yang berlebihan.
Tuhan tidak perlu dibela dengan suara tinggi.
Kebenaran tidak butuh teriakan agar tetap benar.
Justru pesan yang lembut—yang mengajak, bukan mengancam—lebih sering menetap lama di batin manusia. Ia tidak memaksa pintu, tapi mengetuk. Dan ketika pintu dibuka dari dalam, perubahan yang terjadi lebih utuh.
Kesimpulan yang saya endapkan hari ini sederhana tapi berat:
cara kita menyampaikan pesan ilahi akan menentukan jenis manusia yang kita lahirkan.
Jika yang ditanam adalah takut, yang tumbuh adalah kepatuhan semu.
Jika yang disiram adalah cinta dan nalar, yang tumbuh adalah kesadaran.
Dan mungkin, tugas manusia bukan membuat Tuhan terdengar menakutkan,
melainkan membantu sesama manusia berani mendekat tanpa rasa gentar.
Karena iman yang lahir dari ketenangan batin
jauh lebih kokoh
daripada iman yang berdiri di atas ancaman.
0 komentar