Iman Yang Menenangkan, Bukan Yang Mengeraskan Tangan.
Saya pulang dari kajian dengan dada penuh. Bukan penuh tenang, tapi penuh panas. Kata-kata barusan masih menggema—intonasi tinggi, wajah tegang, ancaman berlapis—seolah iman harus lahir dari gertakan. Sampai rumah, batin saya seperti ingin mengasah golok. Bukan untuk melukai siapa pun, tapi untuk menebas bentuk kekerasan yang barusan ditanam.
Golok itu simbol. Ia mewakili dorongan purba manusia ketika disudutkan: melawan atau membeku. Dan saya memilih tidak membeku. Saya ingin memotong satu hal saja—cara bicara yang membuat agama terdengar seperti amarah yang disucikan.
Saya sadar, ini bukan soal benar atau salah ajaran. Ini soal cara. Ketika pesan ilahi disampaikan seperti bentakan, tubuh manusia merespons dengan adrenalin, bukan hidayah. Yang aktif bukan nurani, tapi refleks bertahan. Maka wajar jika pulangnya bukan damai, melainkan tegang. Bukan ingin berbuat baik, tapi ingin melawan tekanan.
Di titik itu saya berhenti. Saya turunkan golok batin saya. Karena kekerasan—bahkan yang berbentuk simbol—tidak pernah menyembuhkan kekerasan lain. Yang perlu ditebas bukan orangnya, melainkan polanya: pola menyampaikan kebenaran tanpa kelembutan, seolah Tuhan butuh nada marah agar didengar.
Saya memilih mengendapkan. Menarik napas. Mengingat ulang: rohman, rohim. Dua kata yang jarang diteriakkan, tapi seharusnya paling sering dirasakan. Saya potong satu simpul dalam diri: saya tidak akan meneruskan panas itu ke rumah, ke anak, ke orang lain. Di sini, rantainya saya putus.
Satu napas. Golok kembali ke sarungnya.
Yang saya bawa pulang bukan amarah—melainkan keputusan kecil: iman yang menenangkan, bukan yang mengeraskan tangan.
0 komentar