Merekam Kembang Api Tidak Akan Menyelamatkan Hidup Saya

by - 4:08 AM

Saya bilang ke diri saya sendiri pelan-pelan:

jangan rekam pesta kembang api.
Lihat saja. Sekilas. Selesai.

Bukan karena takut dikira norak.
Bukan karena anti-FOMO.
Bukan juga karena spek kamera pas-pasan, memori tinggal sisa recehan, atau tidak punya sirkel yang bakal bilang, “Wah keren bro.”

Alasannya jauh lebih sederhana—dan lebih jujur:
habis direkam, videonya tidak akan saya tonton lagi.

Saya kenal pola ini.
Rekam. Simpan. Lupa.
Paling banter ke-scroll tiga bulan kemudian, sambil mikir,
“Ini kapan ya?”
Lalu lanjut scroll.

Kembang api itu indah justru karena singkat.
Ia meledak, terang, lalu hilang.
Kalau saya paksa mengabadikannya, yang abadi bukan kenangannya, tapi file 47 detik dengan goyangan tangan dan suara orang batuk di belakang.

Batin saya akhirnya jujur:
saya tidak sedang ingin menyimpan momen,
saya cuma takut kehilangan momen.
Padahal kehilangan itu bagian dari pengalaman.

Malam tahun baru, saya belajar satu hal kecil:
tidak semua hal harus diselamatkan oleh galeri.
Ada yang cukup disimpan di mata.
Ada yang selesai di detik itu juga.

Lagipula, memori ponsel saya sudah terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak saya buka lagi:
screenshot niat diet,
video lucu yang sudah tidak lucu,
dan kenangan yang katanya penting tapi tidak pernah dikunjungi ulang.

Jadi kali ini saya berdamai.
Saya menatap kembang api tanpa mengangkat tangan.
Tanpa tombol rekam.
Tanpa niat pamer.

Dan anehnya, justru terasa lebih nyata.

Mungkin karena untuk pertama kalinya,
saya tidak sibuk menyimpan hidup—
saya sedang menjalani hidup.

Selesai.

You May Also Like

0 komentar