Playlist Saya Lebih Waras daripada Pola Asuh Saya
Waktu kecil, saya cukup sering dicekoki depresan instan.
Takut cepat. Diam cepat. Patuh cepat.
Efeknya juga cepat—tapi sampingannya panjang.
Untungnya, ada satu pelarian yang tidak pernah dimaksudkan sebagai terapi, tapi bekerja seperti itu: musik.
Bukan musik pilihan.
Bukan musik yang katanya mendidik.
Tapi musik random.
Di rumah ada kaset pita milik abang saya nomor empat. Ia pergi entah ke mana, meninggalkan satu warisan paling tidak terduga: tumpukan kaset tanpa kurasi. Ada komedi yang ketawanya pecah tapi kosong, tembang kenangan yang menurut saya cengeng dan lebay, murotal yang nadanya tenang, wayang golek, jaipongan, rock, metal, hardcore, lagu anak-anak, sampai suara-suara yang rasanya bukan berasal dari peradaban manusia yang ajeg—lebih mirip orang mukul panci lalu sepakat menyebutnya musik.
Waktu itu saya tidak mengerti apa-apa.
Saya hanya memutar. Mendengar. Diam.
Belakangan baru paham: itu bukan sekadar hiburan.
Itu dar-der-dor batin.
Spektrum emosi yang tumpang tindih, saling tabrak, lalu pergi sendiri-sendiri.
Sedih ketemu murotal.
Marah ketemu metal.
Bingung ketemu komedi absurd.
Sepi ditemani suara apa saja yang mau tinggal lebih lama.
Saya tertawa kecil sekarang, menyadari satu hal:
abang saya nomor empat rupanya juga bingung, tapi ia memilih lari ke musik.
Bukan ke tawuran seperti abang saya yang badannya gagah tapi takut gelap.
Bukan ke refleksi panjang yang melelahkan seperti saya.
Dia memilih cara paling sunyi dan paling aman: memutar kaset.
Dan musik itu—tanpa sadar—menjadi antidepresan murah meriah bagi saya.
Menemani kesepian masa kecil tanpa bertanya apa pun.
Tidak menuntut patuh.
Tidak mengancam neraka.
Tidak perlu pamali.
Mungkin itu sebabnya sampai hari ini selera musik saya acak.
Tidak fanatik. Tidak setia. Tidak ideologis.
Hari ini dangdut, besok murotal, lusa lagu absurd yang rasanya dibuat lima menit sebelum deadline.
Dan saya baik-baik saja dengan itu.
Karena di masa kecil, ketika dunia terlalu ribut untuk dipahami,
musik—yang bahkan tidak niat menyelamatkan saya—
justru menjadi satu-satunya yang tidak menekan.
Ia hanya hadir.
Dan kadang, itu sudah cukup.
0 komentar