Negara Katanya Mau Bubar, Tapi Daster Saya Nyasar Sampai Papua
Saya duduk sebentar hari ini, dan anehnya… agak tenang.
Bukan karena dunia membaik.
Tapi karena akhirnya saya paham: yang dicari emak-emak random itu bukan daster.
Mereka cari orang.
Tadi ada emak dari Sulawesi.
Beli satu helai daster.
Satu.
Dikirim dari Jawa.
Seminggu di jalan.
Saya sempat mikir sambil senyum miring:
Emang di Sulawesi nggak ada daster ya, Mak?
Di Papua, Maluku, Kalimantan, NTT, Bali, Sumatera—apa semua daster di sana punah?
Secara logika distribusi, ini ngaco.
Secara ekonomi mikro, ini boros.
Secara akal sehat, ini bikin seller pemula nyengir sinis.
Tapi di situlah saya sadar:
ia bukan beli kain.
Ia beli obrolan dan kepercayaan.
Saya bukan paling murah.
Saya bukan paling cepat.
Saya bahkan sering kebanyakan ngomong.
Tapi saya hadir.
Saya jawab.
Saya menenangkan kecemasan kecil yang bahkan tidak sempat ia ucapkan.
Dan ternyata, itu lebih mahal dari ongkir.
Lucunya, di grup seller, narasinya selalu kiamat:
“Daya beli turun.”
“Indonesia lagi susah.”
“Orang sekarang pelit.”
“Marketplace jahat.”
Rasanya negara mau bubar besok pagi.
Padahal saya hitung-hitung pelan:
KPR saya masih ketutup.
Leasing mobil jalan terus.
Anak saya sekolah di tempat yang SPP-nya tiga kali lipat sekolah lain.
Tidak murah.
Tidak dramatis.
Tapi konsisten.
Indonesia ini aneh.
Katanya krisis, tapi emak-emak masih sanggup nunggu daster seminggu.
Katanya susah, tapi yang dicari bukan diskon, melainkan rasa aman.
Yang susah mungkin bukan negaranya.
Yang susah itu pedagang yang salah membaca manusia.
Saya akhirnya mengakui satu hal ke diri saya sendiri, agak jujur, agak sinis:
banyak orang bukan bangkrut karena ekonomi.
Mereka bangkrut karena capek marah, capek menyalahkan, capek dengar keluhan sendiri.
Sementara emak-emak random itu…
ya cuma pengen ngobrol.
Didengar.
Ditenangkan.
Dan saya?
Saya cuma kebetulan jual daster sambil menenangkan.
Kesimpulan saya hari ini sederhana dan tidak heroik:
Indonesia tidak runtuh.
Ia hanya berisik.
Yang bertahan bukan yang paling murah.
Tapi yang masih sanggup sabar, ngobrol, dan tidak ikut panik.
Sisanya…
akan terus ribut di grup, sambil menunggu keajaiban yang tidak pernah mereka kirimkan ke pembeli.
0 komentar