Bensin Habis di Tengah Jalan, Lalu Menyalahkan Aspal

by - 9:00 PM

Saya baru sadar, banyak pedagang itu tidak benar-benar tumbang karena pesaing. Mereka tumbang karena tidak kuat bercermin.

Lebih tepatnya: kehabisan bensin, lalu marah pada jalan yang tetap lurus.

Awalnya semua tampak heroik. Harga dibanting, margin ditekan, promo dijadikan agama baru. Grup seller ramai: “Gas! Naikin trafik!”
Saya ikut mengamati, diam-diam belajar. ATM—amati, tiru, modif—versi waras.

Tapi ada satu hal yang saya tidak tiru: perang harga.
Bukan karena saya suci. Karena saya pelit—pelit sama tenaga dan saraf saya sendiri.

Di merk yang sama, saya pasang harga hampir official.
Seller lain? Modal plus sedikit. Sangat sedikit. Tipis sampai transparan.

Secara teori mereka menang.
Secara praktik? Mereka sedang menggali kubur sambil live.

Hari-hari berlalu.
Live tetap capek.
Emak-emak tetap random.
Masalah tetap datang dari arah yang tidak ada di modul bisnis.

Bedanya cuma satu:
saya masih punya ruang bernapas,
mereka kehabisan alasan buat buka aplikasi.

Yang paling lucu—atau tragis, tergantung sudut pandang—adalah suasana grup seller.
Isinya keluhan.
Bukan pertanyaan.

“Marketplace jahat.”
“Pembeli makin pelit.”
“Algoritma nggak adil.”
“Zaman susah.”

Jarang sekali saya dengar:
“Kayaknya model usaha gue yang salah.”

Tidak ada yang bertanya mengapa.
Semua sibuk menunjuk siapa.

Di titik itu saya paham, dunia ini memang keras.
Dan ia akan terasa jauh lebih keras bagi mereka yang bodoh—bukan bodoh karena kurang pintar, tapi bodoh karena tidak mau berpikir panjang.

Karena bodoh sejati itu bukan tidak tahu.
Bodoh itu tahu capek, tapi tetap lari sprint tanpa minum.

Saya lihat satu per satu toko itu sepi.
Live terakhir berbulan lalu.
Bio masih ada, tapi semangatnya tidak.

Mereka dulu jadi “contoh sukses” yang bikin saya tergiur masuk.
Sekarang jadi contoh senyap tentang apa yang terjadi kalau dagang hanya pakai ego.

Saya tidak merasa menang.
Saya cuma masih ada.

Dan belakangan saya sampai pada satu kesimpulan sederhana, tidak heroik, tidak Instagramable:

Dagangan itu bukan lomba siapa paling murah.
Dagangan itu soal siapa yang masih sanggup bangun besok tanpa membenci hidupnya sendiri.

Sisanya?
Biar waktu yang menguburkan dengan rapi.

You May Also Like

0 komentar