Negara Katanya Mau Bubar, Tapi Daster Saya Tetap Laku

by - 3:00 AM

Saya akhirnya sampai di titik yang agak lucu sekaligus memalukan:

ternyata teror itu bekerja bukan karena ia benar, tapi karena ia diulang.

Katanya negara mau bubar.
Katanya ekonomi di ujung tanduk.
Katanya besok kiamat versi nasional.

Lucunya, semua itu disampaikan lewat internet yang lancar, paket data aktif, HP buatan luar negeri, sambil ngopi dan scroll santai. Dunia mau runtuh, tapi Wi-Fi tetap stabil. Aneh.

Saya perhatikan, teror itu selalu pakai nada yang sama:
cepat, keras, penuh emosi, dan tidak memberi ruang untuk mikir.
Karena kalau sempat mikir, dia kalah.

Masalahnya, realitas saya terlalu remeh untuk mendukung teror itu.

Di dunia kecil saya: emak-emak masih cerewet,
masih nawar,
masih nanya saku,
masih nunggu paket seminggu tanpa curiga negara kolaps.

Kalau negara benar-benar bubar, harusnya yang pertama panik itu emak-emak.
Tapi faktanya, mereka justru paling santai.
Yang ribut malah orang-orang yang hidupnya tidak bersentuhan langsung dengan kenyataan dapur.

Di sini saya mulai ketawa sendiri:

Ternyata teror itu bukan tentang masa depan, tapi tentang bisnis hari ini.

Ketakutan itu komoditas.
Cemas itu bisa dimonetisasi.
Panik itu bikin orang betah nonton, betah share, betah marah.

Dan yang paling ironis: orang yang paling sering meneriakkan “negara hancur”
biasanya tidak pernah ikut memperbaiki apa pun.
Ia cuma berdiri di pinggir, teriak “awas!” sambil berharap ada yang jatuh.

Saya jadi sadar, absurditasnya di sini: semakin keras orang berteriak dunia runtuh,
semakin hidup dunia kecil yang diam-diam jalan terus.

Daster tetap dijahit.
Paket tetap dikirim.
Anak tetap sekolah.
Tagihan tetap dibayar.

Negara katanya mau bubar,
tapi emak-emak masih sempat mikir:

“Yang ini bahannya panas nggak ya, Bang?”

Dan di titik itu, teror kehilangan wibawanya.
Ia jadi badut.
Bising, tapi tidak relevan.

Saya menutup topik ini dengan satu kesimpulan yang cukup jahat tapi jujur:

Yang benar-benar berbahaya bukan negara yang runtuh,
tapi manusia yang kecanduan hidup dari kecemasan.

Sisanya?
Biarkan saja mereka berteriak.

Saya mau live lagi.
Ada daster yang harus dijelaskan,
dan kecemasan kecil yang harus ditenangkan.

Karena sejauh ini,
itu lebih nyata
daripada teror mana pun.

You May Also Like

0 komentar