Kitab Ihya Ulumuddin Edisi Daster: Syarat Menuntut Ilmu di Hadapan Emak-Emak Medusa
Saya baru ngeh belakangan ini:
ternyata saya menjadi seperti ini bukan karena bakat, bukan karena kebetulan, tapi karena menjalani syarat menuntut ilmu ala Imam Al-Ghazali—tanpa sadar.
Dulu, waktu baca syarat menuntut ilmu dari Al-Ghazali, rasanya agung sekali.
Niat lurus, sabar, rendah hati, menahan ego, menghormati guru, tahan lapar, tahan dihina, tahan tidak dipahami.
Dalam bayangan saya waktu itu: orang duduk bersila, buka kitab, janggut rapi, suasana hening, ada cahaya turun dari langit.
Sekarang saya ketawa.
Karena ilmu daster tidak ada kitabnya.
Gurunya bukan ulama, tapi emak-emak random dengan nama akun lele terbang, bunda cantik 123, dan maknyus official.
Dan anehnya…
syaratnya sama.
Saya niatkan dagang untuk hidup halal—bukan untuk pamer pintar.
Saya menahan diri saat diremehkan:
“ih cowok jualan daster.”
Saya belajar diam saat diserobot antrean.
Saya menelan ego ketika sudah jelasin panjang lebar, lalu dijawab:
“bang, setelan.”
Saya sabar.
Saya ulang.
Saya jelaskan lagi.
Dan kadang, setelah semua itu… dia beli satu.
Kadang tidak beli sama sekali.
Di situ saya baru paham:
ini bukan dagang kain. Ini riyadhah.
Al-Ghazali bilang, ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong.
Saya tambahkan catatan kaki versi live commerce:
ilmu juga tidak akan masuk ke hati yang masih pengen menang debat di kolom komentar.
Saya kira dulu syarat “tawadhu” itu soal sikap ke guru.
Ternyata tawadhu juga berarti:
tidak merasa lebih waras dari emak-emak yang komentarnya patah-patah,
tidak merasa lebih pintar dari akun yang nanya tapi tidak baca,
dan tidak merasa lebih tinggi dari manusia yang hari itu cuma ingin didengar.
Lalu soal sabar.
Saya dulu kira sabar itu pasif.
Sekarang saya tahu, sabar itu aktif dan capek.
Sabar itu tetap ramah saat kepala sudah panas.
Sabar itu menjelaskan ukuran LD ke-17 dengan nada yang masih manusia.
Dan yang paling menyakitkan—syarat menuntut ilmu yang dulu saya remehkan:
mengosongkan diri dari kesibukan batin yang tidak perlu.
Kalau batin saya ribut:
- emak sedikit judes, saya terbakar
- komentar absurd, saya tersinggung
- live sepi, saya panik
Tapi setelah batin dirapikan, yang jahat malah terlihat lucu,
yang absurd jadi bahan tawa,
yang seperti Medusa—yang dulu bikin saya membatu—sekarang cuma… emak-emak capek sebelum masak.
Di titik ini saya sadar:
ilmu tidak selalu turun lewat kitab.
Kadang ia turun lewat kolom komentar,
lewat chat yang tidak dijawab,
lewat transaksi yang batal,
dan lewat satu kalimat kecil:
“abangnya sabar ya.”
Dan di situlah, tanpa toga, tanpa podium, tanpa ijazah,
saya lulus satu pelajaran kecil:
menuntut ilmu bukan soal di mana belajarnya,
tapi seberapa jauh ego saya mau dirapikan.
Hari ini saya tidak jadi wali.
Tidak jadi ulama.
Tidak jadi filsuf besar.
Saya cuma jadi abang jualan daster
yang—anehnya—lebih tenang menghadapi manusia.
Dan ternyata…
itu sudah cukup.
0 komentar