Negara Libur, Kurir Juga Manusia (Dan Saya Baru Sadar)

by - 4:45 PM

Saya ini pelanggan setia kecepatan.

Klik hari ini, besok sampai.
Kalau bisa, sejam kemudian lebih baik.

Makanya ketika awal tahun ini hampir semua layanan ekspedisi libur, refleks pertama saya bukan empati.
Yang muncul justru kalimat pendek, agak egois, tapi jujur:
“Tumben amat.”

Seolah-olah ada yang melanggar kontrak tak tertulis antara saya dan dunia logistik.
Bukankah kurir itu spesies khusus?
Makhluk yang hidup di antara notifikasi “paket sedang diantar” dan bunyi motor berhenti mendadak di depan rumah.

Biasanya, hari besar pun mereka tetap masuk.
Minimal setengah hari.
Minimal biar sistem tidak benar-benar berhenti.
Customer senang, seller tenang, dashboard hijau.

Tahun ini?
Sunyi.

Dan di situ saya ketangkep basah:
ternyata saya sudah terlalu terbiasa dilayani oleh kelelahan orang lain.

Saya baru sadar, betapa seringnya saya menormalkan kalimat:
“Kasian sih kurir, tapi ya begitulah kerjaannya.”

Kalimat itu terdengar empatik, padahal sebenarnya pasif-agresif.
Empati yang aman, karena tidak mengganggu kenyamanan saya.

Liburnya kurir tahun ini seperti jeda yang tidak saya pesan, tapi saya butuhkan.
Bukan untuk paket saya—
tapi untuk pikiran saya sendiri.

Karena selama ini, sistem berjalan bukan karena manusia kuat,
tapi karena manusia dipaksa kuat terus.

Dan ketika mereka berhenti serempak,
saya tidak kehilangan barang apa-apa.
Saya cuma kehilangan ilusi bahwa semuanya harus selalu tersedia.

Di situ kritik kecil muncul, diarahkan ke diri sendiri:
ternyata saya bukan tidak peduli,
saya hanya jarang diberi kesempatan untuk peduli.

Libur kurir ini bukan gangguan.
Ia cermin.

Cermin bahwa dunia tetap baik-baik saja walau paket telat.
Cermin bahwa perayaan tahun baru tidak rusak hanya karena kardus tertahan.
Cermin bahwa manusia boleh rehat, bahkan di sistem yang katanya tidak boleh berhenti.

Kesimpulan saya sederhana dan agak menampar:
kalau saya merasa aneh melihat kurir libur,
mungkin bukan mereka yang aneh—
tapi ekspektasi saya yang sudah terlalu dimanjakan kecepatan.

Dan tahun ini, untuk pertama kalinya,
saya tidak bilang “tumben” dengan nada kesal.

Saya bilang pelan dalam hati:
“Oh… pantes.”

You May Also Like

0 komentar