Pancing Kedua yang Nyangkut di Dompet Orang Lain
Saya punya toko online dummy.
Dummy dalam arti sesungguhnya: hidup segan mati tak mau. Seperti mancing bawa dua pancingan—kalau dapat ikan ya syukur, kalau zonk juga tidak mengganggu nasi di piring.
Masalahnya bukan di tokonya.
Masalahnya di manusia.
Awalnya sederhana. Ada teman kantor minjam uang. Saya tidak enak menolak mentah-mentah, tapi juga tidak mau berubah jadi Bank Dunia cabang pantry. Maka saya tawarkan jalan tengah yang, waktu itu, saya anggap masih manusiawi: gesek tunai lewat toko dummy saya. Ia checkout barang pakai paylater, saya kirim satu barang sebagai “kompensasi moral”, sisanya cair. Sistem menganggap ini transaksi sah. Saya menganggap ini bantuan darurat.
Ternyata saya naif.
Teman saya ini pintar. Bukan pintar yang bikin adem, tapi pintar yang bikin dompet orang lain berkeringat. Informasi soal “bisa gestun” menyebar seperti promo gratis ongkir. Temannya datang satu-satu, menanyakan kebijakan. Nada mereka bukan minta tolong, tapi seperti customer service pinjol:
“Bisa gestun berapa, bang?”
Lho.
Saya niat bantu satu orang, kok rasanya malah buka cabang lembaga keuangan ilegal?
Yang bikin dada makin sesak, hasil gesek tunai itu bukan buat bertahan hidup. Linimasa mereka ramai: nongkrong, kopi mahal, makan lucu-lucuan, story aesthetic. Seminggu kemudian, datang lagi dengan senyum yang sama:
“Bro, bisa gestun lagi?”
Di situ saya sadar: ini bukan bantuan, ini perpanjangan gaya hidup.
Maka saya melakukan hal yang jarang saya lakukan dengan tegas: saya mematikan paylater di toko dummy saya. Selesai. Titik.
Ternyata belum.
Mereka muter otak. Checkout pakai kartu kredit. Polanya sama. Saya bantu terakhir kali. Kali ini bukan karena iba, tapi karena ingin menutup pintu dengan rapi. Tidak banting pintu, tapi dikunci pelan-pelan.
Tanggal 5 Januari. Awal tahun. Energi masih harus dijaga. Eh, beberapa teman kantor mulai muncul dengan frasa baru:
“Bro, pinjam dana dingin dong.”
Dana dingin.
Istilahnya halus, dampaknya demam.
Saya jawab lebih dingin dari AC kantor:
“Aduh pas banget, ini mau bayar supplier. Uang ada, tapi mau keluar semua buat gudang. Lain waktu ya.”
Lucunya, sejak itu tidak ada yang datang lagi.
Mungkin supplier saya dianggap lebih galak dari saya.
Di titik ini saya paham satu hal:
Tidak semua bantuan itu kebaikan.
Sebagian hanya memperpanjang kebiasaan buruk orang lain, dengan wajah tolong-menolong.
Saya tidak sedang merasa suci. Saya juga pernah bodoh. Tapi saya belajar, ada saatnya pancing kedua itu harus diangkat, bukan karena tidak mau berbagi, tapi karena kolamnya ternyata penuh ikan rakus.
Dan saya masih ingin toko dummy itu tetap dummy.
Bukan berubah jadi mesin dosa dengan nota resmi.
Kadang, menjadi manusia utuh itu bukan soal memberi lebih banyak.
Tapi tahu kapan berhenti, sambil tetap bisa tidur nyenyak.
Dan dompet—alhamdulillah—ikut tenang.
0 komentar