Saya Bukan Pintar, Saya Cuma Mengajak
Saya baru sadar belakangan ini: saya sudah cukup keren sejak dulu, hanya saja dulu belum punya istilahnya. Sekarang saya menyebutnya prinsip. Dulu, itu cuma naluri.
Waktu kuliah, ada satu dosen senior. Cara bicaranya seperti orang kumur-kumur—kata-katanya ada, tapi bentuknya kabur, berputar-putar, dan bikin tenggorokan kelas terasa kering. Beliau mengajar matematika bisnis. Katanya gampang. Cuma logika. Rumus, persamaan, selesai.
Masalahnya bukan di materinya. Masalahnya di cara menyampaikan.
Satu kelas hening.
Bukan hening karena paham.
Hening karena berusaha paham.
Teman cewek saya—yang menurut saya jenius—kelihatan fokus luar biasa. Saya? Ya seperti biasa. Otak jalan, tapi pelan. Bukan tidak bisa, hanya tidak secepat dia.
Sesi tanya jawab dibuka.
“Ngerti?” tanya dosen.
Satu kelas menjawab serempak, jujur, dan polos:
“Tidak.”
Beliau marah.
Kami dianggap bodoh.
Ya memang kami bodoh.
Kalau tidak bodoh, ngapain duduk di kelas dan bayar semesteran?
Hahaha.
Entah kenapa, tatapan beliau berhenti di saya.
Seperti saya ini samsak emosi.
“Kamu jelaskan ulang!”
Saya bingung. Bukan karena tidak mau, tapi karena sadar diri: hitungan bukan senjata utama saya. Tapi seperti biasa, yang keluar bukan pengakuan kelemahan, melainkan ajakan yang dibungkus netral.
“Waduh pak,” kata saya, pelan.
“Saya dari tadi berusaha memahami. Tapi sepertinya kami sekelas bingung dengan cara bapak menjelaskan.”
Netral.
Tenang.
Tidak menyerang.
Tapi dianggap agresi.
“Kamu menganggap saya tidak bisa mengajar?”
Saya tarik napas.
“Maksud saya, pak, kalau satu kelas bingung, mungkin metodenya bisa diubah. Setahu saya, angkatan sebelumnya juga banyak dapat C. Barangkali bukan mahasiswanya yang bodoh, tapi caranya yang perlu disesuaikan.”
Beliau tetap marah.
Dan benar saja: satu angkatan dapat C.
Teman cewek jenius saya dapat B sendirian.
Ia menangis seperti habis perang Badar.
Saya dan teman saya saling pandang.
“Yoweslah,” kata saya,
“main PS aja yuk. Kayaknya beli kebutuhan dapur nggak pakai rumus multivariabel.”
Kami sepakat.
Tahun-tahun berlalu.
Kabar datang: angkatan berikutnya lebih mudah dapat B.
Saya tertawa kecil.
“Wah, adik tingkat sekarang pinter-pinter ya.”
Tapi ada bisikan lain.
Katanya, nama saya pernah disebut.
Katanya, cara ngajarnya berubah.
Tidak lagi seperti orang kumur-kumur.
Saya tidak pernah mengonfirmasi.
Tidak perlu.
Saya tetap menghormatinya.
Bahkan hadir di pusaranya saat beliau meninggal.
Di titik itu saya paham:
saya bukan pintar,
saya bukan pemberontak,
saya cuma… mengajak.
Mengajak berpikir.
Mengajak mengubah sudut pandang.
Mengajak tanpa ancaman.
Dan pola itu ternyata konsisten.
Di kelas.
Di rumah.
Di live commerce.
Di hidup.
Saya tidak suka memaksa orang mengerti.
Saya lebih suka mengajak mereka duduk sebentar, lalu bilang:
“Yuk, kita coba lihat dari sini.”
Kalau berhasil, syukur.
Kalau tidak, ya sudah.
Main PS dulu juga nggak apa-apa.
Dan ternyata, itu cukup.
0 komentar