Pick Up Koran Absurd dan Abang-Abang yang Selamat dengan Cara yang Aneh

by - 12:00 AM

Saya baru sadar sesuatu yang agak telat tapi rasanya dang banget.

Koran absurd—yang dulu saya kira cuma bacaan ngawur peninggalan abang saya—ternyata bukan sekadar produk media satu napas. Itu alat bertahan hidup.

Abang saya yang ke empat punya pelarian: mukulin bocah, tawuran sekolah.
Abang ke 2? Dia pelariannya lebih beradab tapi sama-sama berisik: langganan koran dengan bahasa ngawur.

Kalau boleh bohong dikit biar dramatis, jumlah korannya bisa satu mobil pick up.
Beneran. Bertahun-tahun. Langganan harian. Koran masih hangat, tintanya nempel di tangan, dan isinya… ya ampun.

Kalimatnya absurd.
Judulnya sensasional.
Beritanya kayak orang ngos-ngosan kejar deadline sambil salah minum obat.

Saya dulu mikir:
Ini koran ngapain sih? Kenapa bahas kejahatan pakai metafora cabul? Kenapa berita publik ditulis seperti lelucon gagal?

Sekarang saya paham.
Itu bukan soal informasinya. Itu soal tertawanya.

Abang saya tertawa membaca kalimat-kalimat yang logikanya patah.
Tertawa bukan karena lucu, tapi karena ya sudahlah.
Dunia sudah kacau, masa bahasanya harus rapi?

Lalu saya tumbuh.
Remaja.
Ketemu koran lain. Lebih ajeg. Lebih rapi. Lebih sok waras.
Kompas, misalnya.

Dan anehnya, justru di situ saya merasa:
oh… ternyata ada cara lain menulis dunia tanpa teriak-teriak.

Tapi abang saya yang kedua tidak betah.
Dia tetap setia pada koran ngawur itu.
Bukan karena bodoh, tapi karena jiwanya tidak butuh keteraturan—dia butuh pelepasan.

Baru sekarang saya sadar:
abang saya membaca koran itu seperti saya menulis artikel ini.

Bukan untuk menyelesaikan masalah.
Bukan untuk mencari solusi.
Tapi untuk menaruh capek di tempat yang aman.

Saya dulu mengira:
produk koran itu cuma satu napas—lahir, dibaca, dibuang.

Ternyata tidak.
Ia jadi pola.
Cara otak belajar menertawakan kekacauan tanpa harus meledak.

Dan lucunya, pola itu menular ke saya, tapi lewat jalur lain.
Saya tidak mengoleksi koran.
Saya mengoleksi momen sepele:
nasi di piring, petugas sapu, emak-emak di live daster, gosip pejabat, jokes jogging malam hari.

Bedanya cuma medium.
Esensinya sama:
mencari celah napas di dunia yang terlalu padat makna.

Sekarang saya tidak lagi mengutuk koran absurd itu.
Saya berhenti menyebutnya sampah.
Karena ternyata, di keluarga kami, itulah kotak P3K.

Isinya bukan obat.
Isinya tawa yang miring.
Humor yang salah tempat.
Kalimat yang tidak pantas tapi jujur.

Dan mungkin itu sebabnya kami semua selamat.
Dengan cara yang aneh.
Tidak elegan.
Tapi hidup.

Kalau suatu hari anak saya tertawa membaca cerita yang tampak sepele,
saya tidak akan buru-buru membetulkan bahasanya.

Siapa tahu, itu koran hangat versinya.
Bukan untuk tahu dunia,
tapi untuk bertahan di dalamnya.

You May Also Like

0 komentar