Kami Memilih Tertawa, Karena Nangis Terlalu Jauh dari Warung
Akhirnya saya sepakat pada satu hal yang belakangan terasa jujur: humor adalah tanda terakhir dari trauma yang sedang pamit.
Bukan pamit dengan upacara. Bukan dengan pidato. Tapi pamit sambil nyeletuk, nyeletik, lalu ketawa sendiri.
Itu mungkin sebabnya keluarga saya—kalau boleh dikategorikan—masuk golongan lucu. Bukan lucu yang dipoles, tapi lucu yang lahir dari keadaan. Setiap orang di keluarga kami punya gaya masing-masing. Ada yang humor kering, ada yang absurd, ada yang reflektif sambil ngakak. Seperti sirkus kecil yang tidak pernah latihan, tapi selalu tampil.
Sebab hidup kami dulu jauh dari apa yang disebut relasi sosial normal.
Kami tinggal di pinggiran desa. Bahkan pinggiran desa rasanya terlalu sopan. Lebih tepatnya: hutan.
Tanah luas, kebutuhan jasmani tercukupi. Sandang pangan aman. Tapi sekolah jauh, ngaji jauh, warung jauh, tetangga? Lebih jauh lagi.
Kami tumbuh tanpa banyak manusia lain. Yang dekat cuma pepohonan dan sunyi.
Dan di situ, humor jadi jalan keluar paling murah.
Karena kalau tidak tertawa, ya bengong.
Kalau bengong kebanyakan, bisa mikir yang aneh-aneh.
Kami juga sempat kena stigma: orang hutan.
Bukan metafora puitis. Literal.
Warga terisolir.
Sakit? Iya.
Marah? Pernah.
Tapi kami memilih satu reaksi yang lebih praktis: ketawa.
Karena melawan stigma dengan amarah butuh energi, sementara tertawa cukup satu tarikan napas.
Lalu saya melihat pola yang sama di media sosial.
Ada satu postingan ringan, analisanya dangkal, tapi cukup memantik api unggun komentar:
“Dari tiga gubernur di provinsi kita, siapa yang paling berpengaruh bagi masyarakat?”
Dan jawabannya… luar biasa jujur sekaligus memalukan.
Mayoritas memilih mantan pejabat yang tersangkut kasus korupsi dan olah syahwat.
Nada komentarnya bukan marah. Bukan heroik. Tapi sarkas, satire, humor sinis kelas rakyat.
“Beliau setia sama keluarga.”
“Ramah ke showroom mobil dan motor mewah.”
“Dermawan ke masyarakat.”
Yang dimaksud masyarakat di sini tentu saja… gundik.
Bahasanya pelan. Membumi. Seolah berkata: ya beginilah kenyataannya, mau diapain lagi?
Saya membaca itu sambil mikir: ini lucu, tapi juga sedih.
Dan di titik itu saya sadar: ini bukan pembenaran, ini kelelahan kolektif.
Ketika marah sudah tidak mengubah apa-apa, humor jadi bahasa terakhir yang masih bisa dipakai tanpa pecah kepala.
Bukan karena masyarakat bodoh. Tapi karena masyarakat capek.
Capek berharap.
Capek kecewa.
Capek dijelaskan dengan istilah-istilah besar yang tidak pernah turun ke dapur.
Humor sinis itu bukan tanda rusak.
Ia tanda bertahan.
Sama seperti kami dulu di “hutan”.
Ketika relasi sosial minim, ketika jarak terlalu jauh, ketika suara tidak sampai ke mana-mana—kami menemukan satu alat bertahan hidup: menertawakan absurditas.
Dan kini saya melihat benang merahnya.
Dari keluarga saya.
Ke netizen.
Ke komentar sarkas yang terdengar kejam tapi sebenarnya pasrah.
Kesimpulan yang saya bisikkan ke diri sendiri sederhana saja:
humor bukan tanda tidak peduli.
Humor adalah cara paling manusiawi untuk bilang, “saya masih di sini, meski capek.”
Kalau suatu hari tawa itu benar-benar hilang, barulah kita perlu khawatir.
0 komentar