Rasakan: Kamu Bahkan Tak Kuat Bertemu Dirimu Sendiri

by - 9:00 PM

Saya akhirnya paham satu hal yang agak kejam, tapi menenangkan: tidak semua orang gagal karena dunia kejam. Banyak yang tumbang karena tidak sanggup menghadapi versi dirinya sendiri.

Saya melihatnya sangat dekat. Bahkan terlalu dekat. Di rumah.

Dari luar, live daster itu terlihat seksi. Angka naik, grafik hijau, pendapatan 75% datang dari sana. Di kepala orang, termasuk istri saya waktu itu, logikanya sederhana: berarti live ini enak. Duduk, ngomong, jualan, selesai.

Nyatanya?
Beuuuuhhh.

Live itu bukan soal mulut, tapi saraf. Bukan soal produk, tapi emosi. Bukan soal daster, tapi manusia—dan manusia itu, terutama emak-emak random, adalah medan tempur yang tidak diajarkan di buku ekonomi mana pun.

Saya sudah lama berdiri di depan. Menghadapi Salwa yang minta spill tapi tak pernah checkout. Lele terbang yang diam seribu tahun lalu tiba-tiba beli satu helai. Emak-emak yang judes, yang manis, yang absurd, yang sok pinter, yang lapar tapi denial. Saya lelah, iya. Tapi saya tahu caranya bertahan: menelan ego, merapikan batin, dan tetap berdiri.

Istri saya akhirnya mencoba.
Dan di sanalah pencerahan itu datang, bukan sebagai teori, tapi sebagai kebocoran emosi.

“Males aku sama si Salwa,” katanya.
“Udah spill panjang lebar, nggak CO. Nanya lagi, aku block aja.”

Saya ketawa. Bukan mengejek. Ketawa orang yang dulu pernah berdiri di titik itu.
Ia tanya mengejar, “Emang Salwa sering gabung live?” saya jawab "enggak"
Ternyata akunnya mungkin baru. Yang lebih absurd dari Salwa? Banyak.

Di situlah saya melihatnya jelas: ia tidak sedang marah pada emak-emak. Ia sedang marah pada dirinya sendiri yang tidak sanggup tetap rapi saat lelah.

Dan jujur saja—ada kepuasan kecil di batin saya. Sangat kecil. Sangat nakal.
Rasain.
Ini yang dulu saya rasakan.
Ini medan yang saya tapaki tiap hari.

Bukan karena saya lebih hebat. Tapi karena saya sudah lama berdamai dengan fakta pahit: kerja ini menuntut kita menghadapi diri sendiri lebih dulu, sebelum menghadapi orang lain.

Akhirnya, strategi berubah.
Dia mundur dengan elegan: urus promo, campaign, detail harga.
Saya maju: hadapi manusia.

Dan itu sehat. Karena tidak semua orang harus jadi garda depan. Tidak semua orang wajib kuat di tempat yang sama. Yang bahaya justru mereka yang memaksa, denial, lalu menyalahkan dunia.

Sekarang saya paham:
banyak yang iri pada hasil, tapi tidak siap membayar ongkos batinnya.
Banyak yang mau panen, tapi tidak mau menyiangi saraf.

Kesimpulan kecil saya malam ini sederhana dan agak kejam:
sebelum menantang dunia, pastikan kamu sanggup duduk tenang berhadapan dengan dirimu sendiri.

Kalau belum—mundur bukan aib.
Denial-lah yang bikin bocor segalanya.

Dan saya?
Saya lanjut live.
Hadapi Salwa, lele terbang, dan semesta emak-emak Indonesia.
Dengan satu senyum tipis dan batin yang bilang pelan:

“Oke, kamu aneh. Tapi kalau kamu beli, kita damai.” 

You May Also Like

0 komentar