Double Shot: Ketika Stres Masuk Lewat Mulut dan Turun ke Lambung

by - 12:00 AM


Saya baru sadar, tubuh saya ini cerewet. Ia tidak bisa diajak pura-pura kuat terlalu lama. Begitu saya sok dewasa, sok ikhlas, sok “gapapa kok”, tubuh saya langsung nyeletuk lewat jalur alternatif: sariawan dan lambung. Bukan lewat air mata. Bukan lewat teriakan. Tapi lewat luka kecil yang rasanya nyebelin dan perihnya konsisten, seperti cicilan emosi yang jatuh tempo.

Lucunya, saya sempat merasa ini tidak adil. Ego saya saya tekan, saya depresiasi, saya lipat rapi, saya taruh di pojokan. Tapi kok malah bocor? Kok malah sakit? Kok malah dunia rasanya murung tanpa sebab jelas? Saya obati sariawan pakai salep mahal—resep dokter, seratus ribu—seolah luka itu murni masalah fisik. Tidak sembuh.

Lalu hari-hari pelan-pelan tenang. Saya mulai tertawa lagi. Tertawa yang tidak sarkas. Tidak pasif-agresif. Tertawa yang ya… tertawa. Aneh. Sariawan hilang. Begitu saja. Seperti anak kecil yang kapok nangis karena akhirnya diperhatikan.

Di situ saya mulai curiga: jangan-jangan tubuh saya lebih jujur dari pikiran saya.

Saya juga baru sadar, seumur hidup saya tidak pernah pakai deodorant. Bukan karena suci atau eksklusif, tapi karena… memang tidak bau. Keringat saya ya bau keringat biasa. Tidak menyengat. Tidak bikin orang mundur dua langkah sambil menahan napas. Baru belakangan saya paham, ternyata stres orang beda-beda jalur keluarnya. Ada yang ke bau badan, dan saya, maaf ya, suka mikir: ini kamu abis mampir dari lapisan neraka paling bawah atau gimana? Baunya kok melebihi TPS Bantargebang.

Ternyata, bukan neraka. Lambung.

Banyak abang-abang yang saya kenal—keras, tahan banting, jarang ngeluh—punya pola yang sama: makan telat, kopi jalan, rokok nyala, emosi ditelan bulat-bulat. Tubuh mereka menyimpan semuanya di lambung. Maka keluarlah gejala sakral bernama “tipes”. Separuh infeksi, separuh kelelahan hidup yang tidak sempat diurai.

Saya? Lebih niat. Double shot.
Sariawan dan lambung.
Mulut dan perut.
Yang tidak terucap dan yang dipaksa dicerna.

Dulu saya menganggap ini kelemahan. Sekarang saya menganggap ini sistem peringatan dini. Tubuh saya tidak marah. Ia cuma bilang, “Eh, kamu capek. Jangan sok kuat.”

Yang paling aneh—dan ini bagian favorit saya—sekarang saya bisa menertawakan semuanya. Bukan tertawa sinis, bukan tertawa pembelaan diri. Tapi tawa yang tulus. Tawa yang tidak punya agenda. Dan ternyata, itu cukup. Bahkan lebih dari cukup. Ego tidak perlu dibunuh. Cukup diajak duduk. Dikasih teh hangat. Disuruh diam sebentar.

Kesimpulannya begini, dan saya tulis ini untuk saya sendiri:
Tidak semua sakit perlu dilawan. Sebagian hanya perlu didengarkan. Tubuh bukan musuh. Ia hanya jujur ketika pikiran terlalu sibuk berpura-pura.

Dan kalau suatu hari sariawan datang lagi, saya tahu sekarang harus ngapain:
bukan cuma beli salep,
tapi juga ketawa dulu.


You May Also Like

0 komentar