Rumah Batin yang Mulai Terang

by - 3:00 PM


Saya tidak merasa sedang berubah menjadi siapa-siapa.
Saya hanya merasa sedang kembali menempati diri sendiri.

Belakangan ini, saya menyadari sesuatu yang sederhana tapi mengendap: batin saya lebih rapi. Bukan karena semua masalah selesai, melainkan karena saya tidak lagi panik melihatnya. Ada jarak yang sehat antara kejadian dan reaksi. Ada jeda sebelum menilai. Ada ruang untuk tertawa, bahkan pada hal-hal yang dulu terasa mengganggu.

Saya menulis. Pelan-pelan. Di sela waktu luang.
Artikel naratif—tentang rumah batin, tentang parenting, tentang manusia, tentang hidup sehari-hari yang kadang absurd tapi terasa nyata. Tidak saya kejar. Tidak saya pamerkan. Saya batasi. Maksimal lima sehari. Dijadwalkan. Dibiarkan berjalan sendiri.

Tanpa sadar, jumlahnya sudah lebih dari seratus tujuh puluh.

Saat melihat angka itu, tidak ada rasa bangga berlebihan. Yang muncul justru perasaan aneh: oh, ternyata sebanyak ini yang berhasil saya rapikan. Seperti membuka lemari lama dan menyadari isinya tidak lagi berantakan. Bukan karena barangnya sedikit, tapi karena sudah tahu mana yang perlu disimpan, mana yang boleh dibiarkan lewat.

Saya membaca sebagian tulisan itu saat prosesnya. Sisanya akan saya baca lagi nanti, di waktu luang, sebagai orang lain yang sedang berkunjung ke pikiran versi lama saya. Rasanya seperti hidup. Bukan hidup yang gemerlap, tapi hidup yang hadir.

Apakah dunia terasa lebih jernih setelah itu?
Atau justru saya yang sedikit lebih gila?

Mungkin keduanya benar.

Di live commerce, ada akun bernama Lele Terbang. Nama dan komentarnya konsisten aneh. Dulu, tipe seperti ini mungkin langsung saya blok. Mengganggu. Tidak relevan. Bikin lelah.

Sekarang reaksi saya berbeda. Saya tertawa. Bukan menertawakan, tapi ikut masuk ke ritmenya. Saya menanggapi dengan kadar kegilaan yang bahkan lebih tinggi. Anehnya, suasana jadi cair. Terjadi transaksi. Ia membeli lima helai daster. Sekarang jadi langganan.

Belakangan saya paham: ia datang dengan kegilaannya bukan untuk mengacaukan, tapi untuk bertahan hidup. Dan saya, entah sejak kapan, tidak lagi merasa perlu memisahkan diri dari orang-orang seperti itu agar merasa waras.

Ini bukan tentang menjadi lebih baik.
Ini tentang menjadi lebih longgar.

Rumah batin yang rapi tidak selalu sunyi. Kadang justru ramai, tapi tidak ribut. Ada tawa yang tidak defensif. Ada keanehan yang tidak mengancam. Ada orang-orang aneh yang tidak perlu disingkirkan agar hidup terasa aman.

Saya tidak merasa sudah sampai.
Saya juga tidak merasa tersesat.

Saya hanya sedang duduk di tengah perjalanan, meneguk air, melihat sekeliling, dan berpikir: oh, begini rupanya rasanya ketika tidak dikejar-kejar oleh diri sendiri.

Dan itu sudah cukup.

You May Also Like

0 komentar