Tom & Jerry Ber-AC: Saya, Alfamart, Indomaret, dan Warung yang Megap-megap
Saya perhatikan, ribut soal Alfamart versus Indomaret itu mirip nonton Tom & Jerry. Tidak pernah tamat, selalu kejar-kejaran, dan anehnya… selalu satu frame. Di mana ada Alfamart, di situ ada Indomaret. Kadang berseberangan seperti mantan yang belum move on, kadang berdampingan seperti dua orang pura-pura tidak saling kenal tapi hafal jadwal hidup masing-masing.
Lalu orang-orang mulai serius.
Mana yang lebih bagus?
Mana yang lebih murah?
Mana yang pelayannya lebih ramah?
Saya malah diam. Bukan karena bijak, tapi karena bingung: ini lomba apa, dan hadiahnya siapa yang dapat?
Alih-alih ikut debat, saya justru mengajukan pertanyaan yang bikin suasana jadi kurang asyik: siapa sebenarnya yang dirugikan dari persaingan Alfa vs Indo ini?
Biasanya setelah itu, obrolan jadi sunyi. Mirip mati lampu.
Karena begini, saya lihat dua minimarket ini ya sama saja. Keduanya bukan organisasi sosial. Mereka bisnis. Mereka hitung untung, putar modal, optimasi rak, analisis perilaku belanja, dan—ujungnya—profit. Mau kamu bela yang mana pun, yang jelas mereka tetap hidup. Bahkan subur. Bahkan bisa buka cabang baru persis di seberang jalan, seperti sengaja menguji iman warga sekitar.
Lalu siapa yang benar-benar megap-megap?
Bukan Alfamart.
Bukan Indomaret.
Tapi warung kecil.
Warung yang lampunya redup.
Warung yang raknya campur antara sabun, mi instan, dan harapan.
Warung yang dikunjungi warga bukan untuk belanja, tapi untuk ngutang.
Ironisnya, warga yang sama bisa sangat cerewet soal diskon seribu di minimarket, tapi ke warung datang dengan kalimat sakti: “Bu, nanti ya bayarnya.”
Saya tidak sedang sok membela warung kecil. Saya cuma jujur melihat ironi. Kita sibuk debat dua raksasa, sambil lupa bahwa ada yang benar-benar pelan-pelan tenggelam tanpa trending topic.
Lucunya lagi, warung kecil jarang masuk perbandingan. Tidak ada yang bilang, “menurut kamu warung Mak Ijah lebih bagus dari Indomaret nggak?”
Ya jelas tidak. Standarnya beda. Nafas hidupnya beda. Daya tahannya beda.
Di titik ini saya sadar, ribut Alfa vs Indo itu sebenarnya hiburan kelas menengah. Aman. Tidak mengganggu nurani. Karena kalau kita jujur menarik garis lebih jauh, kita harus mengakui: kenyamanan kita sering berdiri di atas ketidaknyamanan yang lain.
Kesimpulan saya sederhana, dan agak usil:
Alfamart dan Indomaret itu bukan musuh. Mereka duet. Tom dan Jerry versi kapital. Ributnya kelihatan, damainya di laporan keuangan. Yang tidak pernah diajak bicara justru warung kecil yang tiap hari bertanya dalam hati, “besok masih buka nggak ya?”
Dan saya?
Saya tetap beli ke minimarket. Munafik dikit tidak apa-apa.
Tapi sekarang, setiap lewat warung kecil, saya setidaknya berhenti sebentar. Beli sesuatu. Bukan karena heroik, tapi karena sadar: kalau tidak begitu, ribut-ribut Tom & Jerry ini cuma akan jadi tawa, sementara yang megap-megap benar-benar kehabisan nafas.
0 komentar