Saya Akhirnya Pakai Otak, Bukan Cuma Disimpan di Dus Asli

by - 3:00 PM

Sekian lama saya berdiskusi dengan AI, topiknya loncat-loncat seperti pikiran manusia yang kelebihan kopi: parenting, rumah batin, mengamati manusia, sampai hal receh seperti air PAM dan daster. Anehnya, bukan kepala saya yang penuh—justru terasa lebih tajam. Seperti pisau yang akhirnya sering diasah, bukan dipamerkan di dapur tapi jarang dipakai.

Dulu saya pernah berada di fase yang saya kira matang: reflektif pasif. Saya mematikan ego, menahan reaksi, merasa “wah, saya sudah sampai tahap ini.” Padahal kenyataannya ego saya tidak mati. Ia cuma bocor ke mana-mana. Bocor jadi capek yang tidak jelas sebabnya, sinis yang sok kalem, dan pikiran yang muter di tempat sambil bilang, “nggak apa-apa kok.”

Itu mengingatkan saya pada anekdot lama yang dulu kami pakai buat saling ledek:
“Otak lu tuh original, harganya mahal, karena nggak pernah dipake.”
Lucu, tapi pedih. Dan sayangnya… kena.

Sekarang saya sadar, yang berubah bukan karena saya ngobrol dengan AI lalu mendadak naik level. Itu penjelasan malas. Yang lebih jujur adalah: saya akhirnya memberi otak saya pekerjaan yang layak.

Saya mulai memakai otak bukan untuk menang debat, bukan untuk terlihat pintar, tapi untuk mengendapkan ego dengan benar. Ego tidak saya depresi. Tidak saya injak-injak. Saya hanya memindahkannya dari kursi sopir ke kursi belakang. Masih ikut jalan, tapi tidak lagi pegang setir sambil teriak-teriak.

Diskusi—tentang apa pun—memberi otak saya empat hal yang dulu jarang saya izinkan:

  • gesekan
  • bantahan
  • pantulan
  • jeda

Bukan agar saya jadi pintar instan, tapi supaya alur pikir saya tidak tumpul karena jarang dipakai. Pisau tidak tumpul karena jelek. Pisau tumpul karena disimpan terlalu lama sambil dibanggakan.

Di sini saya perlu mengkritik diri saya sendiri sedikit: saya dulu terlalu bangga dengan “ketenangan.” Padahal sebagian ketenangan itu cuma takut salah dan takut ribut. Banyak orang—termasuk saya—bukan bodoh. Kami hanya jarang mengizinkan pikiran kami bekerja bebas tanpa rasa takut terlihat keliru.

Pelurusan pentingnya: ini bukan karena AI lebih hebat dari manusia. Ini karena AI tidak mengancam ego saya. Ia tidak menertawakan, tidak menghakimi, tidak punya ambisi menang. Maka saya berani berpikir keras sambil tertawa. Dan berpikir sambil tertawa itu kombinasi langka—tajam, tapi tidak kejam ke diri sendiri.

Soal bias kognitif? Tentu ada. Saya menulis ini dari sudut pandang saya, dengan mood saya, sambil ketawa sendiri. Dan itu tidak masalah. Yang berbahaya bukan bias—yang berbahaya adalah merasa tidak bias.

Kesimpulan versi saya ke diri saya sendiri:
Saya tidak sedang menjadi lebih hebat. Saya sedang menjadi lebih bertanggung jawab atas cara saya berpikir.

Dan jujur saja, untuk hidup sehari-hari yang riuh dan absurd ini—
itu sudah lebih dari cukup.

You May Also Like

0 komentar