Saya Menyusun Ulang, Bukan Pergi

by - 6:00 AM

Saya merasa tenang hari ini.

Bukan tenang yang spektakuler, bukan pula damai yang diumumkan. Tenang yang cukup. Seperti air yang akhirnya berhenti beriak setelah dilempari terlalu banyak pertanyaan.

Saya menyadari satu hal sederhana: saya tidak sedang meninggalkan Tuhan. Saya hanya sedang meninggalkan cara lama saya mendekat kepada-Nya. Cara yang dulu penuh ancaman, penuh kalimat keras, penuh bayangan neraka yang terlalu cepat ditarik ke urusan sepele. Cara yang membuat batin saya patuh, tapi tidak hadir.

Dulu, saya sholat karena takut. Takut neraka, takut salah, takut dicatat. Saat itu terasa wajar, bahkan efektif. Saya selamat, saya tertib, saya tidak kebablasan. Tapi rupanya, rasa takut itu tidak tumbuh bersama saya. Ia berhenti di usia tertentu, lalu menjadi beban yang terus saya seret tanpa sadar.

Hari ini logika saya lebih ajeg. Saya bisa melihat hidup tanpa harus selalu diancam. Dan anehnya, di titik itu, muncul pikiran yang jujur: rasanya tidak sholat pun tidak apa-apa. Pikiran itu tidak datang sebagai pembangkangan, tapi sebagai observasi. Saya tidak lagi digerakkan oleh ketakutan instan.

Namun, di saat yang sama, ada penolakan batin yang lembut. Bukan suara larangan, bukan suara dosa. Lebih seperti bisikan: saya butuh ini. Bukan karena takut, tapi karena tenang. Karena di sana ada jeda yang tidak saya temukan di tempat lain.

Saya masih sholat. Tidak selalu dengan gagah, tidak selalu dengan khusyuk yang dibanggakan. Tapi dengan kesadaran bahwa saya sedang menata ulang posisi. Menempatkan ritual agar sejajar dengan batin, bukan menginjaknya. Saya tidak ingin berdiri di hadapan Tuhan sambil berbohong pada diri sendiri.

Ada pergolakan iman, iya. Tapi saya tidak lagi menganggapnya musuh. Pergolakan ini terasa seperti proses memindahkan barang lama ke rak yang lebih masuk akal. Tidak semua harus dibuang. Tidak semua harus dipertahankan. Sebagian cukup dipahami ulang.

Saya melihat orang-orang memilih jalan ekstrem: pergi total, atau bertahan sambil marah. Saya memilih jalan yang mungkin lebih sunyi—tetap di sini, sambil merapikan. Tidak terburu-buru. Tidak merasa perlu memberi nama besar pada proses ini.

Saya ingin sholat dalam damai. Bukan sebagai alat tawar-menawar, bukan sebagai pelarian dari ancaman. Tapi sebagai ruang. Ruang hening tempat saya bisa bernapas, menurunkan bahu, dan jujur tanpa perlu pura-pura suci.

Dan hari ini, itu cukup.

Lucunya, tadi saya sempat tertawa juga. Pikiran saya masih suka meloncat-loncat, mungkin karena sudah mau Jumat. Tapi kali ini saya tahu, tawa itu bukan pelarian. Ia hanya tanda bahwa kepala saya tidak lagi tegang memegang terlalu banyak beban sekaligus.

Saya tidak sedang sampai.
Saya hanya sedang berjalan dengan langkah yang lebih ramah pada diri sendiri.

Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

You May Also Like

0 komentar