Saya Dibesarkan oleh Ceker, Kepala Ayam, dan Filosofi yang Ternyata Sisa

by - 9:00 AM

Saya baru sadar belakangan ini, ada pola makan yang sangat konsisten dalam hidup saya. Bukan soal gizi, bukan soal selera, tapi soal nasib. Sejak kecil, setiap kali ayam atau ikan naik ke meja makan, saya—sebagai anak paling kecil—selalu kebagian bagian yang katanya penuh makna, tapi belakangan saya curigai: itu sisa.

Ceker.
Kepala ayam.
Usus. Bukan ampela ya, usus.
Kepala ikan, ekor ikan, insang.
Dan tentu saja, tugas mulia: membersihkan tulang sampai kinclong.

Orang tua saya tidak asal membagi. Tidak sembrono. Ada narasi filosofisnya. Kepala ayam supaya kelak saya jadi kepala. Ceker supaya kuat menapaki kehidupan. Usus supaya saya paham labirin hidup, dari masuk sampai jadi kotoran. Dalam hati kecil saya waktu itu mungkin mengangguk sambil mikir, wah dalam juga ya hidup ini—sambil ngunyah sesuatu yang teksturnya antara kenyal dan menyerah.

Sementara itu, abang-abang saya dengan wajah polos menikmati paha dan dada. Bagian yang tidak perlu ditafsirkan. Tinggal dimakan. Tanpa metafora. Tanpa beban simbolik.

Saya menerimanya dengan dua tangan terbuka, seperti abdi dalem menerima titah. Tidak protes. Tidak curiga. Karena dari kecil saya sudah diajarkan dua hal penting:
makanan tidak boleh tersisa, dan bertanya terlalu banyak itu tidak sopan.

Lucunya, pola ini kebawa sampai sekarang. Di rumah sendiri. Ayam ada setiap hari. Ikan melimpah. Saya bisa saja ambil dada ayam, paha besar, bagian yang “layak” menurut standar orang dewasa berpenghasilan. Tapi entah kenapa, tangan saya otomatis menuju kepala, ceker, usus, ekor. Seolah ada memori otot yang berbisik, “ini bagian kamu dari dulu.”

Istri saya kadang melirik dengan wajah antara kasihan dan heran. “Kok kamu milih itu sih?”
Saya juga bingung jawabnya. Bukan karena paling enak. Bukan karena sok filosofis. Tapi rasanya… akrab. Aman. Seperti pulang ke pola yang saya kenal.

Dan tentu saja, saya tetap membersihkan tulang. Sampai putih. Sampai tidak ada sisa. Seolah kalau ada tulang tersisa, neraka ikut dipanaskan.

Baru belakangan saya tertawa sendiri.
Lah iya juga ya.
Ini bukan soal filosofi luhur.
Ini soal pembagian jatah yang tidak adil, tapi dikemas puitis.

Saya tidak marah. Tidak dendam. Justru lucu. Karena ternyata, saya tumbuh menjadi manusia yang bisa menikmati bagian hidup yang dianggap tidak layak oleh orang lain. Yang bisa duduk lama di labirin, di sudut-sudut, di sisa-sisa. Yang tidak kaget kalau harus membersihkan tulang.

Dan mungkin itu satu-satunya metafora yang benar-benar bekerja.

Jadi kalau hari ini saya memilih kepala ayam lagi, jangan langsung mengira saya bijak. Bisa jadi saya hanya sedang nostalgia. Atau sedang bercanda dengan diri sendiri:
“Tenang, hidup. Gue udah biasa dapet bagian sisa, tapi masih bisa ketawa.”

Dan anehnya…
kenyang juga.

You May Also Like

0 komentar