Sesuatu itu Bernama: Filter

by - 3:38 PM

Setidaknya, dengan adanya AI ini, manusia sekarang otomatis punya filter.

Saya mengetik di pencarian peramban:
apa yang sedang tren hari ini.

Lalu jawabannya datang berderet, rapi, seperti etalase berita:

Ukraina terus digempur.
Zelensky bilang Rusia tak ingin mengakhiri perang.
Patung macan putih viral di Kediri—pakai anggaran siapa?
Apakah ISIS bangkit lagi?
Arab Saudi menyerukan separatis Yaman mundur.
Apakah ada cuti bersama tahun baru 2026? Cek jadwal SKB 3 menteri.

Oh.
Ini rupanya yang di luar sedang ramai.

Bukan berarti saya tidak tahu.
Bukan juga tidak peduli.
saya hanya… memfilter.

Sesekali melihat.
Jika relevan, saya  membaca.
Jika tidak, saya  simpan di jarak aman.

Selama domisili saya masih cukup aman,
saya tidak merasa wajib ikut-ikutan membahas perang.
Bukan karena perang tidak penting,
tapi karena kapasitas saya terbatas.

saya tahu batas itu.
Dan saya belajar menghormatinya.

Kalau dipaksakan, nanti saya malah berubah jadi penceramah dadakan.
Menggurui serdadu dari kejauhan.
Menilai konflik yang tidak saya hidupi.

Itu tidak ajeg.
Tidak jujur.
Lebih dekat ke gaduh daripada peduli.

Maka saya memilih menyaring.
Bukan menutup mata,
hanya membuka secukupnya.

AI membantu melihat apa yang sedang ramai,
lalu saya yang memutuskan:
ini masuk, ini tidak.

Seperti blog.
Seperti batin.
Tidak semua harus dimuat.
Tidak semua harus ditanggapi.

Kadang, bertahan tetap waras
jauh lebih penting
daripada terlihat selalu update.


You May Also Like

0 komentar