Soal Sampah, Fungsi, dan Sedikit Senyum
Pernah ngobrol dengan kawan dari fakultas IT.
Begawannya keluar. Halus, tapi terasa.
“Lu punya blog di Blogger? Gratisan? Pakai HTML?”
“Iya,” jawabku.
“Itu sampah.”
Aku tidak tersinggung.
Aneh ya.
Mungkin karena aku sudah selesai berdebat dengan diriku sendiri sebelumnya.
“Iya,” kataku lagi, “tidak apa-apa.”
“Blog saya fungsional.”
Aku tidak sedang membangun roket.
Tidak sedang mengejar kagum.
Aku hanya ingin tulisan bisa dibaca,
tanpa harus mengorbankan waktu dan kewarasan.
Ada kepuasan kecil saat tahu sesuatu bekerja.
Menu tidak loncat.
Arsip bisa di-scroll.
Teks tidak saling tindih.
Dan pembaca—entah siapa—bisa singgah sebentar.
Itu sudah cukup.
Lucunya, kata sampah itu sering dipakai oleh orang yang sudah terlalu lama hidup di dunia yang cepat.
Di sana, yang lambat dianggap memalukan.
Yang sederhana dianggap gagal.
Padahal, di dunia lain—dunia sehari-hari—
yang dicari justru yang bisa dipakai.
Yang tidak ribet.
Yang tidak sok pintar.
Aku tidak menolak belajar.
Aku hanya memilih ritme.
HTML mungkin bukan bahasa masa depan.
Tapi hari ini, ia cukup.
Ia mengerti kebutuhanku.
Dan aku mengerti batasanku.
Kalau ini disebut sampah,
biarlah.
Yang penting,
blogku hidup.
Dan aku masih menikmati prosesnya.
hihihi.
0 komentar