#shakehand (Bab Lanjutan): Berdamai dengan Tubuh, Bukan Debat dengan Semesta
Saya akhirnya paham, #shakehand itu bukan salaman sama dunia luar.
Bukan juga damai dengan jin, urban legend, atau tafsir-tafsir liar yang suka nyelonong tanpa diundang.
#shakehand itu salaman sama diri sendiri.
Selama ini saya kira saya sudah rendah hati.
Ego saya kelihatannya turun.
Tapi ternyata ego itu licin. Dia turun sambil nyelip, sambil nyeletuk:
“Ya gue ngalah, tapi sebenernya gue korban.”
Dan tubuh saya?
Dia nggak mau diajak debat.
Dia langsung protes.
Sariawan, lambung, tipes—paket kombo.
Kayak bilang: Mas, jangan pinter doang. Dengerin gue.
Lucunya, makin saya jelasin ke orang-orang bahwa ini medis, makin mereka yakin ini non-medis.
Mungkin karena di budaya kita, yang rasional sering kalah pamor sama yang dramatis.
Dokter kalah saing sama “perasaan saya bilang ini bukan sakit biasa”.
Saya capek membela diri.
Akhirnya saya #shakehand.
Saya bilang ke tubuh saya:
“Oke. Gue denger. Kita pelan-pelan.”
Saya bilang ke pikiran saya:
“Nggak semua harus dipahami hari ini.”
Saya bilang ke ego saya:
“Lu boleh ada, tapi jangan nyetir.”
Dan yang paling penting, saya bilang ke dunia:
“Gue nggak butuh dipercaya. Gue cuma butuh sehat.”
Aneh tapi nyata, setelah itu semuanya melunak.
Bukan hidupnya yang langsung beres—bukan.
Tapi cara saya memeluk kekacauannya jadi lebih manusiawi.
Saya tetap ketemu emak-emak absurd.
Tetap ketemu logika bengkok.
Tetap ketemu orang yang yakin tipes bisa diusir pake niat baik doang.
Tapi sekarang saya ketawa.
Bukan ketawa sinis.
Ketawa yang bilang: oh, begini ya manusia.
Dan di situ saya sadar:
kedewasaan itu bukan kebal, tapi lentur.
Bukan tidak luka, tapi tahu kapan harus duduk dan minum air.
Jadi #shakehand versi saya hari ini simpel:
- Saya tidak harus selalu kuat
- Saya tidak harus selalu benar
- Saya tidak harus selalu menjelaskan
- Saya cukup hadir, bernapas, dan jujur pada tubuh sendiri
Sisanya?
Biar jadi urban legend aja.
Saya sudah keluar dari filmnya.
0 komentar