Manual Lapangan: Cara Membedakan Tipes, Stres, dan Jin (Edisi Urban Legend Keluarga Indonesia)
Saya akhirnya sadar, ini bukan kejadian sekali dua kali. Ini urban legend. Turun-temurun. Lintas generasi. Lintas grup WhatsApp keluarga.
Judul besarnya selalu sama: “Kalau nggak jelas, berarti bukan medis.”
Saya cuma tipes.
Gejalanya textbook: lemas, demam naik turun, lambung rewel, sariawan mekar kaya bunga musim hujan.
Tapi alurnya cepat sekali berubah genre. Dari drama kesehatan ke horor mistis kelas FTV.
Bab satu selalu lembut:
“Kayaknya kamu kecapean.”
Saya mengangguk. Betul. Saya juga merasa begitu.
Bab dua mulai goyah:
“Tapi kok lama ya sembuhnya?”
Lho? Emang semua yang capek sembuhnya harus instan?
Bab tiga—ini titik baliknya:
“Jangan-jangan…”
Nah. Di sini logika mulai packing koper.
Lalu masuklah aktor tetap urban legend:
air doa, minyak, bacaan, bisikan, analisis jarak jauh.
Saya minum. Saya oles. Saya hargai niat baik.
Tapi tubuh saya tetap berkata: tolong tidur, tolong makan, tolong berhenti mikir.
Yang bikin saya geli, jin selalu jadi penjelasan paling rajin bekerja.
Padahal kalau saya jin, saya juga kesel.
Saya nggak ngapa-ngapain, tiba-tiba disalahin karena seseorang kurang tidur dan kebanyakan mikir.
Saya sampai membayangkan rapat internal dunia gaib:
“Bos, kita disalahin lagi.”
“Yang mana?”
“Yang tipes.”
“Ya ampun, itu mah urusan bakteri, kenapa kita ikut-ikut?”
Lama-lama saya paham, ini bukan soal percaya atau tidak percaya. Ini soal budaya menghindari kenyataan yang terlalu dekat.
Mengakui saya stres berarti mengakui hidup saya berat.
Mengakui saya capek berarti mengakui saya punya batas.
Itu lebih menakutkan daripada percaya ada sesuatu yang “datang dari luar”.
Padahal tubuh saya jujur. Dia nggak bikin metafora.
Dia cuma bilang: cukup.
Dan lucunya, saat saya berhenti melawan, berhenti defensif, berhenti merasa harus selalu kuat—sariawan sembuh. Lambung tenang. Kepala jernih.
Tidak ada ritual pamungkas.
Tidak ada jin yang pamit.
Kesimpulan kecil saya, dicatat dengan senyum miring:
Urban legend ini hidup karena kita jarang mau duduk diam dan bertanya jujur pada diri sendiri.
Lebih mudah menyalahkan yang tak kasat mata, daripada merawat yang jelas-jelas kelelahan.
Jadi kalau suatu hari saya tumbang lagi, dan ada yang bertanya dengan wajah penuh misteri:
“Ini kenapa ya?”
Saya mungkin akan jawab santai:
“Ini bukan apa-apa. Ini hidup. Lagi agak berat.”
Dan kalau urban legend itu tetap ingin hidup, ya sudah.
Biarkan.
Tapi saya sudah tidak mau lagi ikut main di film horornya.
Saya pilih genre baru: komedi reflektif tentang manusia yang akhirnya mau istirahat.
0 komentar