Tahun Baru Tanpa Dar-Der-Dor
Tahun lalu, saya mengawali tahun baru dengan niat yang terdengar wajar: mengajak anak menonton festival kembang api. Alasan saya sederhana dan, saya kira, cukup mulia—ikut euforia seperti orang lain, mengenalkan anak pada keramaian, pada “pengalaman bersama” yang katanya penting untuk tumbuh kembang.
Kenyataannya jauh dari bayangan.
Di tengah lautan manusia, anak saya justru marah. Bukan tantrum tanpa sebab, tapi protes yang sangat masuk akal jika saya dengarkan betul-betul:
“Ke sini malam-malam mau ngapain? Cuma lihat dar der dor terus pulang?”
Pertanyaan itu menusuk karena jujur. Tidak dramatis. Tidak manja. Ia sekadar bingung mengapa harus capek-capek berada di situ.
Dan benar saja, setelah kembang api usai, kami tidak pulang dengan perasaan hangat. Yang ada justru kemacetan total. Lebih dari satu jam kami terjebak, perlahan mengurai keluar dari area festival, dengan tubuh lelah dan emosi yang sudah habis. Euforia yang saya bayangkan ternyata berumur sangat pendek, kalah cepat oleh realitas fisik yang melelahkan.
Tahun ini, saya memilih hal yang sangat berbeda.
Tidak ada festival. Tidak ada keramaian. Tidak ada ambisi “harus beda dari hari biasa”. Kami di rumah saja. Makan mi instan bersama. Suasananya bahkan nyaris identik dengan hari-hari lain. Tidak istimewa. Tidak juga menyebalkan.
Lalu, entah kenapa, saya bertanya:
“Kak, mau nonton festival kembang api?”
Jawabannya santai, tanpa emosi berlebih:
“Dari balkon aja, yah.”
Di situ saya berhenti sejenak.
Saya sadar, mungkin selama ini saya yang terlalu sibuk mengejar makna simbolik—tahun baru harus begini, harus begitu—tanpa benar-benar bertanya: apakah pengalaman ini memang dibutuhkan, atau hanya kebiasaan yang diwariskan tanpa disaring?
Ada kritik halus yang muncul, bukan hanya pada diri saya, tapi pada budaya yang sering kita terima mentah-mentah. Kita diajari bahwa pergantian tahun harus dirayakan dengan kebisingan, kerumunan, dan konsumsi. Seolah-olah tanpa itu, tahun baru kehilangan legitimasi.
Padahal bagi anak saya, dan mungkin juga bagi saya sendiri jika jujur, yang dibutuhkan bukanlah spektakel, melainkan rasa aman dan kendali. Menyaksikan kembang api dari balkon bukan tanda anti-sosial atau kurang pengalaman. Itu tanda bahwa ia sudah bisa memilih: ingin melihat tanpa harus tenggelam.
Di sini saya menarik satu kesimpulan yang tenang, bukan heroik:
mengawali tahun baru tidak harus dengan sesuatu yang besar. Kadang, yang paling jujur justru yang paling sunyi.
Tahun ini tidak terasa “wah”. Tapi juga tidak menyisakan lelah. Tidak ada amarah. Tidak ada macet. Tidak ada pertanyaan batin tentang “sebenarnya ini buat siapa?”
Mungkin, bagi kami, tahun baru kali ini bukan tentang menambah pengalaman, tapi mengurangi yang tidak perlu. Dan itu, bagi saya, sudah cukup monumental.
0 komentar