Terima Kasih Mantan (yang Masih Nempel di Skripsi)

by - 6:00 PM

Saya belakangan sering geli sendiri membaca halaman “Ucapan Terima Kasih” di skripsi.

Bukan karena bahasanya yang puitis, tapi karena satu pola yang terus berulang dan makin dinormalisasi:
pacar ditempatkan sebagai tokoh utama perjuangan akademik.

Kadang bahkan lebih tinggi dari orang tua.
Lebih panjang dari dosen pembimbing.
Lebih emosional dari diri sendiri.

Saya bertanya ke diri saya sendiri:
Ini skripsi atau album kenangan hubungan?

Saya paham, skripsi itu masa sulit.
Begadang, nangis, hampir nyerah, deadline mengejar, revisi seperti kutukan turun-temurun.
Dan ya, pacar bisa hadir: menemani, mengingatkan makan, jadi tempat curhat, atau sekadar jadi alasan untuk tetap waras.

Tapi mari jujur sebentar.
Di seluruh hidup ini, benarkah pacar adalah pihak yang paling berjasa?

Orang tua mungkin tidak paham judul skripsinya.
Tapi merekalah yang membuat saya bisa sampai di bangku kuliah tanpa harus mikir besok makan apa.
Dosen pembimbing mungkin cerewet dan lama balas chat.
Tapi tanpa tanda tangan mereka, skripsi saya cuma jadi draft curhatan berlembar-lembar.

Dan diri saya sendiri—yang sering dilupakan—
yang duduk, ngetik, nangis, bangkit lagi, lalu ngetik ulang dengan mata panda.
Aneh rasanya kalau justru saya menaruh diri saya di baris paling bawah, atau malah tidak disebut sama sekali.

Lalu soal pacar.
Boleh disebut? Boleh.
Tapi perlu dinormalisasi? Menurut saya, tidak.

Karena skripsi itu dokumen resmi.
Bukan story Instagram yang bisa dihapus kalau hubungan kandas.
Nama pacar yang hari ini terasa “selamanya”, besok bisa berubah status jadi mantan berhuruf tebal—dan sayangnya, skripsi tidak bisa diedit setelah dijilid.

Mending kalau jadi nikah.
Kalau putus?
Apa tidak aneh suatu hari nanti menjelaskan ke pasangan sah:
“Oh itu? Itu mantan, dulu nemenin aku skripsian.”

Lebih ironis lagi, kadang pacar ditempatkan seolah-olah pahlawan tunggal,
padahal kontribusinya lebih banyak moral support daripada metodologi penelitian.

Saya jadi berpikir begini:
Urutan terima kasih itu bukan soal basa-basi, tapi soal nilai.
Siapa yang menopang hidup saya secara nyata?
Siapa yang memberi struktur, bukan sekadar pelukan?

Orang tua.
Dosen pembimbing.
Diri saya sendiri.

Pacar?
Kalau mau disebut, mungkin cukup sebagai catatan kaki kehidupan.
Bukan headline akademik.

Dan soal tunangan—
ya, tunangan itu seperti memasukkan barang ke keranjang belanja.
Belum tentu dibayar, belum tentu dibawa pulang.
Jadi jangan dulu dipajang permanen di dokumen negara bernama skripsi.

Kesimpulan saya sederhana, dan saya tujukan ke diri saya sendiri:
Euforia boleh.
Romantis boleh.
Tapi skripsi bukan tempat paling aman untuk mengabadikan perasaan yang sifatnya fluktuatif.

Karena pada akhirnya, skripsi itu bukan tentang siapa yang paling sering menemani,
tapi tentang siapa yang membuat saya bisa sampai ke titik ini—dan siapa yang benar-benar bertahan sampai halaman terakhir.

You May Also Like

0 komentar