Kuping Saya Butuh Bunyi, Netizen Butuh Kaca

by - 9:00 PM

Saya ini orang yang senang suara.

Bukan cuma musik—apa saja yang berbunyi asal konsisten. Alunan lagu, orang nyanyi, dengung kipas, bahkan suara hujan yang jatuhnya nggak rapi. Pokoknya, selama ada bunyi, otak saya anteng. Tidak ada bisikan aneh yang lalu-lalang seperti maling pikiran.

Lucunya, begitu masuk ruangan kedap suara, justru terasa ada suara yang bikin kuping pengang. Entah itu dengung darah sendiri, entah halu tingkat ringan. Fenomena apa pun itu, saya memilih percaya satu hal: sunyi total tidak selalu ramah.

Makanya saya menikmati cover lagu.
Lagunya kadang cocok selera, kadang enggak. Kadang suaranya profesional, kadang… ya seperti suara kambing yang dulu kecekik papan kandang waktu kecil. Tapi tetap saya hargai. Ada usaha. Ada niat. Ada keberanian berdiri di depan kamera sambil bilang ke dunia: “Ini suara saya.”

Dan di situlah masalah dimulai.
Bukan di nadanya. Bukan di falsetto yang lari. Tapi di kolom komentar.

Netizen maha agung muncul, bukan sebagai penikmat suara, tapi sebagai kurator wajah.
Komentarnya bukan, “nada akhirnya kurang,” tapi, “suaranya enak, sayang mukanya.”
Plis. Stop. Kalau mau bilang cover lagunya jelek, bilang saja lagunya jelek. Jangan bawa-bawa wajah orang seolah itu fitur audio.

Ada juga yang sok netral tapi tetap nyelipin racun:

“Suaranya cocok masuk American Idol, di sana tampang bukan urusan.”

Saya baca sambil mikir:
Bang, itu bukan pujian. Itu paspor halu.

Saya ikut usil dan balas dalam hati (kadang di kolom komentar juga):
“Bang, rasional dikit. Ini orang bukan latihan buat American Idol. Coba buka videonya yang lain. Dia lebih sering angkat galon. Cover lagu ini mah pelepasan penat, bukan audisi hidup.”

Di titik itu saya sadar:
Yang tidak ajeg bukan suaranya, tapi cara kita mendengar.

Kita bilang menikmati karya, tapi masih sibuk menilai bungkusnya.
Kita mengaku objektif, tapi telinga masih pakai mata.
Kita lupa, tidak semua orang bernyanyi untuk jadi artis. Ada yang bernyanyi supaya kepalanya tidak ribut.

Dan mungkin, itu juga alasan saya senang suara.
Bukan karena semua harus indah, tapi karena bunyi—seaneh apa pun—lebih jujur daripada sunyi yang sok rapi.

Di akhir hari, saya menyimpulkan dengan damai:
Kalau kuping saya butuh bunyi agar tenang,
mungkin netizen butuh kaca sebelum ngetik.

Sama-sama terapi.
Cuma beda medianya.

You May Also Like

0 komentar