Tertawa di Negeri Headline Gila
Saya lama mengira tawa abang kedua saya itu tanda ia agak “rada-rada”. Tawa yang muncul di saat yang salah, di topik yang menurut saya tidak lucu, bahkan kadang di situasi yang mestinya bikin dahi berkerut. Saya sempat menilainya dari jauh: ini orang kenapa sih, kok dunia ditanggapi seperti acara lawak tengah malam?
Belakangan saya sadar, itu bukan kegilaan. Itu mekanisme bertahan hidup.
Abang saya langganan koran. Bukan koran yang memberi harapan, bukan pula yang mengedukasi dengan tenang. Koran absurd. Headline-nya sering seperti ditulis oleh redaktur yang salah minum obat flu dicampur kopi sachet. Kasus kejahatan berat—bahkan sekelas kekerasan seksual terhadap anak—disajikan dengan logika patah, metafora ngawur, dan pilihan kata yang membuat tragedi terdengar seperti bahan guyonan murahan.
Saya baca satu dua. Kepala saya pusing. Ini berita atau parodi? Isinya horor, tapi bungkusnya slapstick. Dunia yang sakit, ditulis oleh bahasa yang ikut sakit.
Dan abang saya? Tertawa.
Awalnya saya jengkel. Dalam batin saya menghakimi: kok bisa sih ketawa baca beginian? Tapi makin lama saya perhatikan, tawanya bukan karena tragedinya lucu. Tawanya muncul seperti refleks orang yang sudah terlalu sering dicekoki absurditas. Kalau ditanggapi serius, bisa pecah kepala. Kalau ditelan bulat-bulat, bisa busuk di dada. Jadi dia memilih jalur ketiga: ditertawakan.
Di titik itu saya mengangguk pelan. Oh. Jadi ini caranya bertahan.
Dunia memberinya kekacauan setiap pagi lewat headline. Ia membalasnya dengan tawa, bukan karena tidak punya empati, tapi karena empati tanpa katup pelepas itu mematikan. Saya baru ngeh kenapa postur tubuhnya lebih berisi dibanding saudara-saudara kami yang lain, yang hidupnya lebih keras, gizinya pas-pasan, dan jarang tertawa. Abang saya makan cukup, tidur cukup, dan—ternyata—menertawakan dunia secukupnya.
Saya jadi berkaca. Saya sendiri memilih jalur lain: menulis, menyindir, menggerutu pelan. Abang saya memilih tertawa seperti orang kehilangan ingatan. Tapi ujungnya sama: sama-sama ingin tetap waras di dunia yang sering kehilangan logika.
Kesimpulan itu datang tanpa dramatisasi.
Tidak semua tawa itu tanda tidak peduli. Kadang tawa adalah jaket pelampung.
Dan di negeri headline gila, mungkin yang paling berbahaya bukan orang yang tertawa, tapi orang yang membaca semua itu dengan wajah datar… lalu menyimpannya utuh di kepala.
0 komentar