Boycott Sambil Checkout: Saya, Prinsip, dan HP Made in China

by - 3:00 AM

Saya sering bilang ke diri sendiri: hidup itu harus lentur, asal tulang punggungnya—prinsip umum—tidak patah. Prinsip umum versi saya sederhana: tidak melanggar hukum agama, tidak menabrak akal ekonomi, dan tidak bikin hidup orang lain lebih susah hanya demi ego pribadi. Sisanya? Bisa dibicarakan sambil ngopi.

Makanya saya ngakak waktu baca berita (yang belakangan ternyata belum tentu valid): Amerika memesan ribuan kaos bertuliskan “Boycott China”, diproduksi di pabrik China, oleh pekerja China, dengan mesin China. Tulisan “Boycott China” itu kemungkinan besar disablon dengan rapi oleh tangan yang sama yang sedang diboikot. Saya membayangkan pekerjanya fokus, profesional, mungkin sambil mikir, “Oke, ini orderan. Dibayar. Saya kerjakan.” Selesai. Tidak ada drama ideologis di ruang produksi. Ada target, ada upah, ada nasi di meja makan.

Di situ saya berhenti tertawa dan mulai mikir. Jangan-jangan fleksibilitas itu bukan tanda tidak punya prinsip, tapi justru tanda paham mana prinsip, mana atribut. Tulisan di kaos itu atribut. Uangnya? Nyata. Perut yang harus diisi? Nyata. Prinsip pekerja itu jelas: kerja yang halal, dibayar, tidak melanggar hukum. Kalimat di depan matanya cuma teks. Ironis, iya. Mengganggu iman? Belum tentu.

Lalu saya menoleh ke rumah sendiri: Indonesia. Realitas yang ini bukan hoaks. Di sini, kebencian pada “China” sering diucapkan dengan dada membusung. Komentar dilempar bebas di media sosial, penuh emosi, penuh klaim moral. Tapi jari yang mengetik itu? Menari di atas HP made in China. Paket data? Lewat perangkat China. Aplikasi? Server entah di mana, tapi ponselnya jelas bukan hasil rakitan bambu lokal.

Saya jadi sadar, banyak dari kita ingin terlihat teguh, padahal cuma kaku. Ingin tampak berprinsip, padahal hanya sedang nyaman dengan kontradiksi. Kita marah pada simbol, tapi akur dengan manfaatnya. Kita benci pada label, tapi cinta pada diskonnya. Dan anehnya, kita merasa itu tidak perlu dijelaskan.

Di titik ini saya menertawakan diri sendiri. Jangan-jangan saya juga begitu. Mengkritik globalisasi sambil menikmati ongkir murah. Mengeluh soal kapitalisme sambil senang flash sale jam dua pagi. Bedanya, saya mencoba jujur: saya pakai, saya butuh, saya akui. Kalau mau boikot, boikot sekalian. Kalau tidak sanggup, ya jangan sok suci.

Kesimpulannya datang pelan-pelan, seperti rasa malu yang tidak teriak:
fleksibel bukan berarti munafik, kalau kita sadar dan jujur pada batasnya. Yang melelahkan itu bukan hidup yang lentur, tapi hidup yang pura-pura lurus sambil belok diam-diam.

Dan malam ini saya mengangguk sendiri:
tidak apa-apa hidup di dunia yang absurd, asal saya tidak ikut berbohong pada diri sendiri.

You May Also Like

0 komentar