Air Kecil, Amarah Besar

by - 12:33 PM

Saya perhatikan, masalah di hidup ini sering kali tidak sebesar reaksi manusianya. Contohnya malam itu: suplai air di cluster kami mengecil. Bukan mati. Bukan kering kerontang. Air tetap mengalir—pelan, tapi cukup untuk mandi, masak, dan hidup ala manusia beradab.

Penyebabnya juga jelas dan tidak mistis: mesin air rusak. Titik. Bukan disedot tuyul, bukan dikutuk mantan warga, bukan konspirasi developer. Mesin. Rusak. Maintenance jalan.

Tapi seperti biasa, masalah utama tidak pernah benar-benar soal air.

Masalah utamanya adalah grup warga.

Nada marah dan sinis berseliweran seperti promo akhir tahun. Ada yang bertanya, ada yang menyindir, ada yang bertanya sambil menyindir, ada yang menyindir sambil marah. Intinya satu: kapan air normal?
Beda kepala, beda cara meluapkan emosi.

Saya membaca semuanya dengan tenang. Bukan karena saya paling bijak, tapi karena saya coba membayangkan satu sosok yang tidak masuk grup WhatsApp itu: teknisi air.

Malam tahun baru. Orang lain hitung mundur, dia hitung baut. Orang lain teriak “tiga, dua, satu!”, dia dengar bunyi mesin yang ngadat. Langit penuh petasan dan kembang api, tapi matanya fokus ke panel mesin yang tidak peduli pergantian tahun.

Dia mungkin lupa ini malam tahun baru. Atau mungkin ingat, tapi memilih tetap kerja. Dan di saat yang sama, di layar ponsel kami, amarah tetap mengalir lebih deras dari debit air yang kami keluhkan.

Di titik itu saya merasa: kami agak kurang adil.

Bukan berarti warga tidak boleh protes. Air itu kebutuhan dasar. Wajar resah. Tapi ada jarak tipis antara menyampaikan kebutuhan dan menumpahkan emosi ke arah yang salah. Mesin rusak tidak membaca pesan sinis. Teknisi juga bukan musuh publik.

Yang menarik, airnya kecil. Tapi emosi kami bocor besar.

Saya jadi mikir, kadang manusia itu lucu. Hal yang bisa ditunggu sebentar diperlakukan seolah bencana nasional. Padahal, dalam banyak hal hidup, kita sering bertahan dalam kondisi jauh lebih kering—emosi, empati, dan rasa adil.

Kesimpulan kecil saya malam itu sederhana dan agak nakal:
air kecil itu masalah teknis, tapi amarah besar itu masalah batin. Mesin bisa diperbaiki dengan alat. Tapi cara menyikapi keadaan cuma bisa diperbaiki kalau kita mau sedikit duduk, menarik napas, dan ingat—di balik keran yang tidak deras, ada manusia lain yang sedang bekerja diam-diam.

Air nanti akan normal.
Tapi alangkah baiknya kalau kepala kita lebih dulu.

You May Also Like

0 komentar