Kakang Prabu dari Singgasana Kenteng

by - 12:20 PM

Saya menyadari, tidak semua kedekatan tampak sopan dari luar. Kadang ia muncul dalam bentuk bercanda yang—menurut sebagian orang—kurang ajar. Tapi saya belajar satu hal sederhana: ukuran pantas tidak selalu sama dengan ukuran hidup.

Saya merasa sangat dekat dengan ibu mertua. Kedekatan yang tidak dibuat-buat. Maka candaan saya mengalir begitu saja, tanpa rem tangan adat yang terlalu kencang. Dari luar mungkin terlihat lancang. Tapi dari wajahnya—tawa yang renyah, bukan senyum basa-basi—saya tahu satu hal: ia tidak sedang dilecehkan, ia sedang dianggap setara.

Dan mungkin justru itu yang jarang ia dapatkan.

Kedatangannya ke rumah kami bukan agenda besar. Ini murni undangan jalur paksa dari anak kami. Cucunya. Tidak ada negosiasi. Tidak ada diskusi panjang. “Mbah harus ke sini,” titik. Maka ia datang, meninggalkan kampung, meninggalkan suaminya—kakeknya anak saya—di desa.

Di kepala sebagian orang, ini berat. Tanggung jawab istri. Meninggalkan suami sendirian. Tapi realitas tidak selalu segelap tafsirnya. Ayah mertua saya justru senang. Salah satu dari mereka bisa melihat cucu. Itu saja sudah cukup untuk kebahagiaan orang tua seusia mereka. Urusan makan, mandi, tetangga—semua aman. Hidupnya sederhana dan ajeg.

Lalu keluar kalimat itu dari mulut saya, tanpa rencana, tanpa konsep:

“Terima kasih ya, Ma, sudah ke sini. Rela meninggalkan Kakang Prabu di singgasana Kenteng sendirian.”

Saya bahkan tidak tahu dari mana diksi itu datang.

Yang terjadi setelahnya lebih menarik dari kalimatnya. Ia tertawa. Bukan tawa sopan. Tapi tawa kaget, tawa ringan, tawa yang seolah berkata: lah kok bisa ya, hidup saya disebut begini.

Rutinitas mereka sebenarnya sangat biasa. Menyiapkan makan sebelum ke ladang. Kerja. Pulang. Tidur. Ulang. Sepanjang hidup. Tidak ada singgasana. Tidak ada prabu. Yang ada hanya keberlangsungan. Tapi justru karena itu, candaan tadi bekerja. Ia mengangkat rutinitas membosankan menjadi kisah kecil yang agung—walau cuma lima detik.

Yang membuatnya lebih “nakal” adalah: kalimat itu keluar dari saya, menantu. Dalam hierarki keluarga, biasanya posisi ini penuh rem. Kata dijaga. Nada ditimbang. Tapi di momen itu, rem itu tidak bekerja. Dan anehnya, tidak ada yang rusak.

Saya jadi teringat saat saya bercanda menyebut diri sebagai “pemimpin rumah tangga” dan istri saya tertawa. Bukan karena gelarnya benar, tapi karena kami sama-sama tahu itu bercanda. Humor bekerja bukan karena kekuasaan, tapi karena kesepakatan diam-diam bahwa kita sedang bermain.

Di situ saya menangkap satu hal penting: humor yang sehat bukan soal sopan atau tidak sopan, tapi soal relasi. Candaan yang sama bisa jadi penghinaan di satu tempat, dan jadi kehangatan di tempat lain. Bukan karena kalimatnya berubah, tapi karena jaraknya berbeda.

Kesimpulan kecil saya malam itu sederhana:
kedekatan yang jujur kadang terlihat nakal, dan hierarki yang kaku sering kali justru membuat orang kesepian. Jika seorang ibu mertua bisa tertawa karena menantunya menyebut suaminya “Kakang Prabu di Singgasana Kenteng”, mungkin itu tanda bahwa relasi mereka tidak dibangun dari jarak, tapi dari rasa aman.

Dan saya? Saya belajar satu hal lagi: tidak semua yang tampak kurang ajar itu salah. Kadang, itu cuma bentuk lain dari rasa hormat—yang memilih tertawa, bukan menunduk.

You May Also Like

0 komentar