Barbeque Gagal, Ayah Tidak Hangus

by - 1:05 PM

Awal tahun 2026 dibuka dengan permintaan yang sederhana tapi cukup ambisius: barbeque ala-ala.

Bukan di halaman rumah dengan panggangan proper, tapi di balkon lantai atas. Tempat jemuran. Tempat angin suka lewat tanpa izin. Tempat ideal untuk segala sesuatu yang setengah matang, termasuk rencana.

Saya, tentu saja, menyanggupi.
Bukan karena ahli, tapi karena ayah memang sering merasa: masa sih ini nggak bisa?

Bekas kaleng kue Lebaran—yang biasanya cuma jadi saksi bisu niat diet gagal—saya sulap jadi tempat sate darurat. Arang ada. Sosis ada. Kipas angin disiapkan biar efisien, seolah-olah ini proyek ilmiah, bukan bakar-bakaran iseng.

Masalah utama muncul cepat: api tidak mau menyala.
Minyak tanah langka.
Ide nyedot bensin dari motor sempat mampir ke kepala, lalu segera diusir oleh akal sehat yang telat tapi masih hadir.

Setelah perjuangan kecil yang tidak heroik, api akhirnya menyala. Bukan api unggun kebersamaan, tapi api pasrah.
Barbeque pun berjalan… ya, berjalan saja.
Tidak istimewa.
Tidak Instagramable.
Tidak ada aroma “keluarga harmonis” yang biasanya dijual di iklan margarin.

Dan justru di situ saya sadar:
yang spesial memang tidak terjadi di arang.

Tidak ada momen “ayah terbaik sedunia”.
Tidak ada dialog dramatis.
Tidak ada foto yang layak disimpan.

Yang ada cuma saya, anak, asap tipis, dan sosis yang matang setengah dengan rasa ya sudahlah.

Tapi ada sesuatu yang tumbuh. Pelan. Diam-diam.
Bukan kegembiraan besar, melainkan rasa cukup.

Saya tidak sedang mengajari apa-apa.
Tidak sedang membuktikan apa-apa.
Tidak sedang menjadi versi ideal ayah dalam kepala saya sendiri.

Saya hanya hadir.
Dan ternyata itu cukup.

Kritiknya ke diri saya sederhana tapi agak nyeletuk:
selama ini saya sering berpikir relasi harus dibangun lewat sesuatu yang “berhasil”.
Padahal, yang lebih sering mengikat justru hal-hal yang gagal tapi dilalui bersama.

Kesimpulannya pun tidak heroik:
hubungan tidak selalu tumbuh dari momen besar.
Kadang ia tumbuh dari arang yang susah nyala, dari kaleng Lebaran yang salah fungsi, dari ayah yang tidak pintar tapi tidak pergi.

Barbeque-nya biasa saja.
Tapi saya pulang ke bawah dengan perasaan yang tidak bisa dibeli:
saya hadir, dan itu cukup.

Dan anehnya…
saya tidak ingin mengulang barbeque-nya.
Saya ingin mengulang hadir-nya.

You May Also Like

0 komentar